Minggu, 08 November 2009

Bunderan HI dan panggung ganyang korupsi

 

Saya baru saja kembali dari Bunderan HI, Jakarta. Hampir tiga jam lamanya saya berada di situ, membaur dengan ribuan orang yang berpartisipasi dalam aksi damai dukung KPK alias aksi ganyang korupsi. Para peserta terdiri dari pria wanita, tua muda, besar kecil. Di situ mereka menyatukan tekad untuk mengganyang korupsi sebagai syarat untuk membangun Indonesia yang lebih sehat. 

Selain disuguhi orasi-orasi politik dari beberapa aktivis anti-korupsi, para peserta juga dihibur dengan lagu-lagu yang dibawakan oleh sejumlah artis seperti Once Dewa, Erwin Gutawa, Oppie Andaresta dan grup band Slank. Beberapa peserta pun diberi kesempatan untuk naik ke panggung untuk menyampaikan aspirasi. Para peserta dibuat tertawa oleh seorang ibu yang naik ke panggung dan keseleo lidah. Ketika seorang pembawa acara bertanya kepadanya, “Kita datang ke sini untuk mengganyang…..?” Ibu itu dengan mantap mengatakan “Untuk mengganyang KPK.” Mendengar itu para hadirin pun tertawa. Tetapi si ibu pun segera menyadari bahwa dia melakukan kesalahan. Dia kemudian meminta maaf, dengan mengatakan, “Maaf, saya salah.” Pembawa acara kemudian menanyakan lagi kepadanya, “Kita datang ke sini untuk mengganyang……?” Kali ini si ibu menjawab dengan tegas, “Untuk mengganyang korupsi.”

Untuk mengganyang korupsi itulah, ribuan orang rela berdiri di bawah terik panas selama beberapa jam. Mereka mengibarkan bendera-bendera dan menampilkan spanduk-spanduk serta poster-poster yang isinya antara lain mengganyang korupsi, mengganyang koruptor, tolak kriminalisasi kewenangan KPK, berantas mafia penegak hukum, facebookers peduli keadilan, hidup cuma sementara jangan nodai diri dengan korupsi. Dalam suatu aksi yang terbilang teatrikal, seorang aktivis menunggang boneka buaya biru. Di belakangnya, dua aktivis yang berdiri di sebuah mobil pickup memancangkan gambar Anggodo yang berpakaian polisi. Sebelumnya, gambar tersebut sempat ditampilkan di panggung orasi. Seraya menunjuk pada gambar itu seorang aktivis yang sedang berorasi bertanya kepada para hadirin, “Apakah anda mau Kapolri kita seperti ini?” “Tidak!” Jawab para hadirin. Aksi di Bunderan HI itu pun dimeriahkan dengan teriakan, cicak Jaya, koruptor mati, presiden bangun.

Di Bunderan HI siang ini, komunitas CICAK (Cinta Indonesia Cinta KPK) menyatakan keberaniannya melawan buaya. Ini tampak dari logo spanduk yang bergambarkan seekor buaya dan seekor cicak, bertuliskan, “Saya cicak berani melawan buaya.” Dari hadirin yang berdiri di pinggir bunderan air mancur sempat terdengar suara yang mengatakan, “Cicak bisa menelan buaya.”  Siang ini CICAK menuntut tegaknya keadilan. Untuk menegakkan keadilan para pemimpin bangsa ini perlu bertindak tegas terhadap para koruptor. Selama para pemimpin bangsa ini tidak mampu bertindak tegas terhadap para koruptor, keadilan tak dapat ditegakkan.

Bagi saya, apa yang disuarakan oleh CICAK pada Minggu siang, 8 November 2009 ini representatif. Suara mereka mewakili keinginan dan harapan rakyat Indonesia yang selama ini mendambakan terwujudnya keadilan sosial yang real. Keadilan sosial yang real itu tak mungkin diwujudkan bila praktek-praktek korupsi masih terus berkembang biak dan menjadi buaya-buaya yang secara ganas mencaplok apa-apa yang menjadi hak rakyat Indonesia. ***

Jumat, 06 November 2009

Ada perkembangan baru atau tidak?

 

Belakangan ini pertanyaan tersebut di atas sering diajukan kepada saya. Yang mengajukannya adalah saudara-saudara di kampung Eputobi dan sekitarnya. Sudah lama mereka menunggu hasil kerja nyata dari aparat kepolisian Polres Flores Timur dalam mengungkap hingga tuntas kasus pembunuhan atas Yoakim Gresituli Ata Maran. Sudah lama mereka pun diresahkan oleh kelambanan proses penanganan perkara kejahatan tersebut. Sudah cukup lama mereka juga diresahkan oleh kecongkakan para tersangka pembunuh orang yang tak bersalah itu.

Kepada pihak keluarga korban, mereka sering mengingatkan untuk tidak menunda dan menunggu terlalu lama. Maka tak mengherankan bila mereka pun mengajukan lagi dan lagi pertanyaan semacam itu. Kepada mereka, saya hanya dapat memberikan jawaban bahwa perkara itu terus ditangani. Sekarang ini sedang diusahakan agar berkas perkara tersebut dapat memperoleh status P21.

Lalu saya juga menambahkan bahwa Kejati di Kupang sudah diganti. Kasat Reskrim Polres Flores Timur pun sudah diganti. Pergantian yang terjadi di dua instansi penegak hukum itu diharapkan dapat membuka ruang yang lebih jelas bagi kemantapan proses penanganan perkara pembunuhan tersebut. Diharapkan Kasat Reskrim yang baru dapat memberikan dukungan yang kuat bagi Kapolres Flores Timur untuk mengungkap hingga tuntas perkara kejahatan tersebut. Keseriusan Kapolres Flores Timur dalam menangani perkara pembunuhan tersebut tak perlu diragukan.

Jawaban semacam itu belum tentu memuaskan hati mereka yang mengajukan pertanyaan tersebut. Soalnya, selama ini mereka sudah mengalami sendiri bahwa pergantian beberapa pejabat di Polres Flores Timur belum juga memberikan dorongan efektif bagi pengungkapan kasus pembunuhan tersebut hingga tuntas. Padahal kasus pembunuhan tersebut berada pada posisi yang demikian benderang. Salah satu pertanyaan besar yang sering mengemuka adalah mengapa orang-orang lain dari kubu tersangka, yang terindikasi terlibat dalam peristiwa pembunuhan tersebut belum juga dipanggil dan diperiksa secara intensif oleh penyidik di Polres Flores Timur.

Masyarakat yang mengikuti perkembangan penanganan perkara pembunuhan tersebut dari awal dengan mudah menyaksikan terjadinya keganjilan demi keganjilan. Jangan dikira bahwa masyarakat tidak tahu mengapa keganjilan-keganjilan itu dapat terjadi. ***

Selasa, 03 November 2009

Eputobi menjadi ajang spionase

 

Penanganan perkara pembunuhan Yoakim Gresituli Ata Maran yang lamban telah membuka ruang bagi pihak tertentu untuk menjadikan kampung Eputobi sebagai ajang spionase alias tempat yang empuk bagi kegiatan mata-mata. Tetapi arah kegiatan spionase tersebut tidak jelas hingga kini. Laporan terbaru dari kampung Eputobi menyebutkan bahwa aktivitas spionase yang terjadi di kampung itu berjalan cukup intensif sekaligus ekstensif.

Dari pantauan yang selama ini dilakukan, ditemukan bahwa jaringan spionase itu melibatkan elemen-elemen yang berpihak kepada para tersangka pembunuh Yoakim Gresituli Ata Maran. Juga ditemukan bahwa yang dimata-matai adalah orang-orang tertentu dari kubu “jabar” alias kelompok barat di kampung itu.  Padahal orang-orang termaksud sama sekali bukan pelaku kejahatan, bukan pula penyebab masalah yang meresahkan warga Eputobi.

Berdasarkan informasi dan fakta-fakta yang dapat dihimpun, saya menyarankan para warga kelompok barat agar lebih hati-hati, lebih waspada terhadap aktivitas spionase tersebut, karena arah dari aktivitas tersebut tidak jelas. Yang perlu lebih diwaspadai adalah musuh dalam selimut, yang diperalat untuk membela kepentingan kelompok tertentu yang bertentangan dengan upaya pihak keluarga korban untuk menegakkan kebenaran dan keadilan.

Berbagai macam cara telah coba ditempuh oleh para tersangka untuk menutup-nutupi kejahatan sangat besar yang mereka lakukan di Blou pada Senin malam, 30 Juli 2007. Namun sampai sejauh ini upaya-upaya mereka itu gagal. Si kepala komplotan pembunuh berdarah dingin itu sendiri sebenarnya sudah tahu bahwa upaya dia dan rekan-rekannya untuk memutarbalikkan fakta-fakta kriminal yang ada sudah mengalami kegagalan. Sumpah adat apa pun yang mereka lakukan selama ini, dan yang akan mereka lakukan di masa mendatang tidak akan berhasil memenuhi keinginan mereka. Sumpah semacam itu akan menjadi bumerang yang memangsa diri mereka sendiri. Meskipun demikian, mereka dan para suporter mereka masih terus coba bertaruh dengan waktu, dengan harapan dapat memutarbalikkan fakta-fakta kriminal yang mereka lakukan.  Dalam rangka itu, mereka berupaya agar orang-orang yang selama ini mereka kambinghitamkan itu dapat dijerat oleh hukum.

Mereka lupa bahwa pihak keluarga korban dan berbagai aliansi strategisnya tidak akan membiarkan kasus kejahatan besar itu ditutup oleh siapa pun. Bagi kami, melawan kejahatan merupakan suatu kewajiban moral. Apa pun hambatan yang ditemukan dalam penanganan perkara kriminal tersebut merupakan bagian dari tantangan yang perlu diatasi. Kami sudah tahu persis, mengapa perkara kriminal tersebut terhambat pemrosesannya. Akan tiba waktu, semua itu terungkap. Dan siapa pun orang atau pihak yang terlibat dalam upaya penghambatan itu pun akan terkena tindakan hukum.

Selama menunggu tiba saat penghakiman bagi para tersangka pelaku pembunuhan tersebut dan mereka yang berusaha menghambat penanganan perkara kejahatan tersebut, anda perlu berhati-hati agar tidak menjadi korban dari aktivitas spionase yang sedang gencar dilakukan di kampung Eputobi itu. ***

Minggu, 01 November 2009

Tumbangnya sebatang pohon hitam

 

Tumbang sudah pohon hitam itu, setelah cukup lama dia tumbuh di tanah yang tidak menghendaki kehadirannya. Hanya karena alam terlanjur merestui kelahirannya, maka tanah kering itu pun mau menjadi tempat baginya untuk bertumbuh. Padahal tanah kering itu pun telah lama mengeluhkan ketidakbergunaan kehadirannya. Dia telah menjadi beban bagi bumi yang diciptakan untuk menumbuhkan kebaikan.

Dia adalah buah dari pohon yang tak baik, maka ketika menjadi benih dan tumbuh, dia pun tumbuh menjadi pohon yang liar, tak sesuai dengan hukum alam yang telah digariskan untuk mendukung kehidupan di bumi ini. Maka dia pun dibiarkan menjadi pohon yang hitam legam agar gampang dikenal ciri anehnya. Dia terlanjur tumbuh di mata jalan, sehingga banyak mata pun bisa memandangnya.

Karena hitam warnanya, maka dia pun menjadi tempat berteduh burung-burung gagak dan ular beludak hitam. Tapi tak ada terkukur yang berani hinggap di situ, meskipun dahan-dahan dan ranting-rantingnya kerap mengundang mereka untuk mampir. Tak seekor ayam pun yang mau menjadikan dahan dan rantingnya sebagai tempat untuk bermalam.

Dia pernah menjadi sebatang pohon yang tampil gagah perkasa di antara pohon-pohon lainnya. Batangnya yang keras membuat dia tampil kokoh seakan tak ada satu pun badai yang dapat mematahkannya, apalagi menumbangkannya. Cukup lama dia bertahan melawan garangnya panas dan kencangnya deru badai musim hujan. Kilatan petir dan gemuruh guntur pun seakan tak berpengaruh padanya. Dengan batang, dahan-dahan, dan ranting-rantingnya yang keras, dia sering mengancam mematahkan pohon-pohon lainnya.  Dia pun pernah mengangkat sumpah untuk mematahkan pohon-pohon lain. Daun-daunnya sering menghembuskan api amarah kepada mereka itu.

Pada suatu malam si pohon hitam bersama beberapa pohon hitam lainnya menantang sebatang pohon yang baik. Dengan garang dia ingin mematahkan pohon yang baik itu. Tapi sia-sia usahanya itu. Malam-malam selanjutnya dia masih mencoba dan mencoba lagi memenuhi keinginannya itu. Tapi setiap dia coba mendekati pohon yang baik itu, dia pun langsung mundur. Melihat usahanya yang tak kenal lelah itu, pada suatu malam, pohon yang baik itu berpura-pura membiarkan dirinya untuk dipatahkan olehnya. Tetapi ketika dia coba melakukannya, bukannya batang pohon yang baik itu yang patah, melainkan batangnya sendiri yang patah.

Di tanah kering berbatu-batu hitam, pada malam itu juga, pohon kering itu pun patah. Batangnya yang patah jatuh menimpa bumi, disambut dengan tawa ria oleh burung-burung malam. Para tikus pun datang untuk menyaksikan apa yang terjadi dengannya.  Beramai-ramai mereka berkata, dia telah patah, dia telah tumbang. Mungkinkah bumi berkenan menumbuhkannya kembali? Begitu tanya beberapa di antara mereka. Mendengar pertanyaan semacam itu, yang lain langsung menjawab, mustahil. Pada batangnya yang tergeletak di tanah kering berbatu-batu para tikus itu kemudian bernyanyi sambil menari-nari, dan berseru, hai pohon hitam, engkau akan lenyap untuk selama-lamanya. Pada malam itu para tikus berpesta pora.

Ketika fajar menyingsing, para tikus itu membubarkan diri. Mereka kembali ke lubang persembunyian mereka masing-masing. Ketika datang cahaya baru di suatu pagi hari, pohon-pohon lain di sekitarnya tak melihat lagi keberadaannya. Dan mereka pun berkata bersahut-sahutan, dia telah tumbang, dia telah tumbang. Sehingga gunung gemunung dan bukit-bukit di sekitarnya pun bisa mendapat kabar tentang tumbangnya pohon hitam itu. Ya pohon hitam itu telah tumbang. Demikian kata mereka.  Biarlah dia tumbang, kata mereka bersahut-sahutan.

Tapi di sekitarnya, masih berdiri pohon-pohon hitam lainnya. Gerutu dan keluh kesah datang silih berganti dari mulut-mulut mereka. Tapi tak satu pun dari mereka yang berkuasa untuk menumbuhkannya kembali. Setelah diam sejenak di hadapan batangnya yang rebah tak berdaya di muka bumi, bersama-sama mereka lalu berseru, dia telah tumbang. Dalam waktu singkat batangnya yang patah itu pun hancur musnah. Dan bumi pun segera melupakan keberadaannya selama-lamanya. ***

Sabtu, 31 Oktober 2009

Sepak terjang si cincin permata biru

 

Si cincin permata biru. Itulah julukannya. Cincin permata biru yang menghiasi jari manisnya itulah, yang membuat dia dijuluki demikian. Dengan cincinnya itu, dia tampil penuh gaya. Dengan stelan hitam-hitam dia sering membaluti bodinya yang terbilang ceking. Kalau sudah begitu, tampilannya tampak seram, meski senyum pun sering tersungging di bibirnya.

Jika tampilannya saja sudah seram, apalagi sepak terjangnya. Kala siang dia menggunakan kedua kakinya untuk berjalan, kala malam dia menggunakan sayap-sayapnya untuk terbang seraya menaburkan benih-benih hitam di seluruh pelosok kampungnya. Dia adalah burung malam yang tiada henti memburu mangsa yang sedang terlelap. Terkadang dia pun bisa menyalak dan menggonggong seperti anjing. Seperti anjing pemburu, kaki-kakinya tiada henti berlari mengejar mangsanya. Tak lupa taring-taringnya pun kerap dipamerkan.

Suatu malam setelah berputar-putar keliling kampung, dia mendarat sejenak pada ranting pohon asam. Dari situ dia memandang ke utara, ke selatan, ke timur, dan ke barat. Tapi tak ada satu pun yang dapat dilihatnya. Ketika memandang ke bawah, dia melihat banyak kucing dan anjing yang sedang menanti kejatuhannya dari pohon asam itu. Maka dikuatkanlah hatinya untuk bertahan di ranting pohon itu. Dia lalu coba menghitung berapa jumlah kucing dan anjing yang sedang menantinya di bawah sana. Tapi dia tak sanggup menghitungnya hingga tuntas. Tiba-tiba dia sadar bahwa mereka yang di bawah sana itu adalah jelmaan para korban dari keganasan sepak terjangnya selama ini. Wah…., ternyata sudah banyak juga korbanku. Begitu katanya dalam hati. 

Ternyata banyak sudah jatuh korban akibat sepak terjangnya. Kata orang-orang sekampung, dia sudah menyusahkan banyak orang. Jika sepak terjang si cincin permata biru itu tidak dihentikan, maka lebih banyak orang lagi bakal disusahkannya juga. Soalnya, si cincin permata biru kian tak mengenal ampun. Di rumah tetangganya dia menimbun banyak barang legam. Anak seorang saudaranya dihajarnya juga. Belakangan ini dia pun sibuk melakukan operasi untuk mengganyang seorang gadis yang dibencinya. Padahal tak ada salah gadis itu padanya.

Tapi kini, rahasia kekuatannya mulai terkuak satu per satu. Dan banyak orang mulai merasa yakin, bahwa kaki-kakinya akan remuk, dan sayap-sayapnya pun akan patah. Bahkan tak akan ada belulang yang tersisa pada raganya. Dia tak akan sanggup melawan derasnya aliran waktu. ***

Jumat, 23 Oktober 2009

Pembaca blog atamaran

 

Seorang teman lama pernah berceritera kepada saya bahwa dia selalu membaca tulisan-tulisan saya di blog atamaran (atamaran.blogspot.com). Sejumlah orang Lewoingu yang melek internet pun sering mengakses blog tersebut. Di Larantuka dan Kupang blog atamaran cukup dikenal. Sejumlah angota polisi di Kupang dan di Larantuka pun sering membaca tulisan-tulisan yang disajikan dalam blog atamaran. Sejumlah tulisan di blog ini pun dengan mudah menyebar ke alamat situs-situs internet lainnya.

Setelah di blog atamaran dibuka kolom diskusi sejarah Lewoingu, tidak sedikit orang yang memperoleh manfaat dari tulisan-tulisan tentang sejarah lewoingu yang disajikan dalam kolom tersebut. Ada rekan-rekan dosen yang dengan setia membaca artikel-artikel tentang sejarah itu. Dengan demikian mereka juga terus mengikuti polemik sejarah Lewoingu.

Siang ini Jumat 23/10/2009 seorang rekan dosen senior menemui saya dan berceritera bahwa dia sudah mencetak semua artikel sejarah Lewoingu yang saya tulis. Sebagian artikel tersebut sudah dia baca, sebagiannya lagi akan dia baca. Dosen senior yang satu ini pun sering mengakses www.eputobi.net melalui jaringan internet gratis di kantornya. Kepadanya saya bertanya, “Anda membacanya di mana, di eputobi.net atau di blog saya?” “Di eputobi.net dan di blog atamaran.” Begitu jawabnya. 

Seorang rekan dosen senior lain pernah bertanya, bagaimana dengan polemik sejarah itu. Kepadanya saya mengatakan, “Saya terus siap berpolemik dengan siapa saja tentang sejarah Lewoingu.” Mendengar itu, dia tersenyum sambil memberikan semangat, “Bagus, maju terus demi kebenaran.”  Dosen senior yang satu itu pernah menyimak isi beberapa tulisan dari lawan-lawan polemik saya. Rekan dosen yang satu ini dikenal sebagai pembaca yang hebat.  Setelah membaca, dia biasanya memberikan catatan-catatan kritis. Dan kalau sedang berkumpul, kami sering beradu argumentasi tentang masalah-masalah yang dipandang perlu untuk didiskusikan.

Beberapa orang lain yang mengikuti polemik sejarah Lewoingu pun bertanya, “Mengapa lawan-lawan polemikmu kok tidak meneruskan polemik?” “Entahlah, tempohari mereka menggebu-gebu, tetapi di tengah jalan suara mereka tiba-tiba menghilang, entah kemana. Mungkin mereka sedang menyelam untuk mengumpulkan bahan-bahan yang mereka perlukan untuk menanggapi tulisan-tulisan saya. Selanjutnya kita tunggu saja.” Begitu jawab saya.

Apreasi terhadap isi artikel-artikel tentang sejarah Lewoingu yang terpampang di blog atamaran biasanya datang dari para pembaca bukan orang Lewoingu. Di antara pembaca yang berasal dari kalangan orang Lewoingu, ada yang malah berkasak-kusuk untuk menghentikan diskusi sejarah Lewoingu seraya memberikan komentar yang overdosis berdasarkan rasa tidak sukanya atas apa yang didiskusikan. Komentar paling mutakhir atas isi tulisan saya dilatarbelakngi oleh semangat mempolitisasi kata-kata tertentu yang saya gunakan dalam diskusi sejarah Lewoingu. Tak lupa dia pun membunyikan nada ancaman. Orang yang bersangkutan mungkin mengira bahwa saya adalah seorang anak kecil yang gampang tunduk oleh gertakan semacam itu.

Gertak sambal semacam itu mengingatkan saya akan apa yang terjadi di kampung Eputobi selama beberapa tahun terakhir. Orang-orang dari kubu timur, yaitu kubu pro pelaku kejahatan sering mengeluarkan ancaman dan gertakan terhadap para warga kubu barat. Ancaman pembunuhan dan ancaman kekerasan lainnya, ancaman tidak boleh membeli raskin, dan ancaman lainnya sering mereka lontarkan kepada kelompok barat di kampung Eputobi. Dua anggota kelompok timur yang berjubah pun menggunakan mimbar gereja St. Yosef Eputobi untuk mengeluarkan kata-kata yang mestinya tidak patut diucapkan oleh orang-orang seperti mereka. Beberapa orang dari kubu pro kejahatan itu pun pernah meneror orang-orang tertentu dari pihak barat dengan caci maki yang sungguh-sungguh keterlaluan. Kesukaan orang-orang semacam itu pun disalurkan melalui sms dan internet.

Tidak hanya itu. Kekerasan fisik seperti mencekik dan menempeleng orang yang dianggap masuk dalam kelompok lawan pun mereka lakukan. Lantas rumah seorang tokoh kubu barat pun pernah dihajar dengan batu. Terdapat indikasi bahwa pelakunya adalah salah seorang tersangka pembunuh Yoakim Gresituli Ata Maran. Kekerasan macam itu terjadi ketika Donatus Doni Kumanireng berada tak jauh dari rumah tersebut. Belakangan ini orang-orang pro tersangka pelaku pembunuhan tersebut diperalat sebagai mata-mata oleh pihak tertentu. Yang mereka mata-matai adalah orang-orang tertentu dari kubu barat. Pihak tertentu itu punya kepentingan untuk menggagalkan upaya penegakkan hukum atas perkara kejahatan yang terjadi di Blou pada Senin malam 30 Juli 2007 itu.

Pada dasarnya orang-orang dari kubur timur itu tidak suka dengan diskusi. Maka tak usaha heran, ketika ada di antara mereka yang memaksakan diri untuk terlibat aktif dalam diskusi sejarah Lewoingu mereka asal bicara. Keterlibatan mereka dalam diskusi bukan untuk mencari kebenaran rasional tapi untuk mewujudkan agenda-agenda politik kelompok mereka di kampung Eputobi. Dalam rangka itu mereka dengan tekun mengakses pula blog atamaran.

Ya, pembaca blog atamaran terdiri dari kawan maupun lawan. Suka atau tidak suka, orang-orang yang selama ini merasa alergi dengan diskusi sejarah Lewoingu pun mau membaca juga artikel-artikel yang terpampang di kolom diskusi sejarah Lewoingu di blog atamaran. Orang yang pernah mempertanyakan arti polemik sejarah Lewoingu pun ternyata tetap saja menjadi pembaca setia artikel-artikel tentang sejarah Lewoingu di blog atamaran. Setelah membaca, di kalangan mereka itu pun timbul diskusi hangat, terkadang penuh dengan kekesalan. ***

Kamis, 22 Oktober 2009

Di Sukutukang, Flores Timur, beberapa praktisi black magic mengakui dosa-dosa mereka

 

Hampir tiga bulan sudah rumah seorang gadis di Sukutukang sering dikunjungi tamu dari berbagai kalangan. Ada yang datang ke situ untuk memohon kesembuhan dari penyakit atau sakit yang sedang diderita, ada yang memohon agar bisa memiliki keturunan (anak), dll. Pendek kata, mereka yang datang ke situ punya tujuan masing-masing. Dari Eputobi pernah datang sepasang merpati yang sedang dilanda kebingungan.

Pernah mampir pula ke rumah gadis itu beberapa orang Sukutukang, yang selama ini terkenal sebagai pengguna black magic, ilmu hitam. Untuk apa mereka datang ke situ, hanya mereka sendiri yang tahu. Yang jelas ketika berada di rumah gadis itu, segala macam kartu rahasia yang selama ini mereka mainkan terbuka satu per satu, bukan oleh orang lain tetapi oleh mulut mereka sendiri. Di hadapan gadis itu, segala macam kekuatan black magic yang selama ini mereka gunakan sebagai senjata pemusnah orang-orang yang tidak mereka sukai menjadi tidak berarti apa-apa. Dan dari mulut mereka masing-masing meluncur pengakuan tentang aksi-aksi jahat yang pernah mereka lakukan. Di antara mereka yang mengaku dosa itu terdapat seseorang yang pernah dimintai bantuannya oleh salah seorang tersangka pembunuh Yoakim Gresituli Ata Maran.

Kejadian semacam itu menjadi bahan pembicaraan hangat baik di Sukutukang maupun di kampung-kampung sekitarnya. Orang-orang yang mengetahui kejadian itu mengakui bahwa tak ada satu pun praktisi black magic di Sukutukang dan sekitarnya yang mampu menandingi “ilmu” yang dimiliki oleh gadis itu. Kehadirannya menimbulkan kengerian tersendiri bagi orang-orang yang mengandalkan kuasa gelap sebagai kekuatan hidup mereka masing-masing.

Kengerian itu pernah dirasakan sendiri oleh sepasang merpati dari kampung Eputobi. Tetapi belum ada informasi tentang apa reaksi mereka setelah mereka sendiri mengalami resistensi yang sangat kuat dari suatu kekuatan yang jauh lebih tinggi di suatu rumah di Sukutukang itu. Mestinya kejadian itu bisa menjadi pemicu kesadaran pada diri mereka untuk segera mengakui kesalahan besar, yang sudah menjadi rahasia umum itu. Karena sudah menjadi rahasia umum, maka di Eputobi pun sempat timbul omongan tentang para pelaku pembunuhan tersebut begini, “Kalian mau mengaku dosa atau tidak mau mengaku dosa, kami sudah tahu dosa kalian.”

Sia-sia kalian berusaha untuk menutup-nutupi perbuatan sangat keji yang kalian lakukan di Blou pada Senin malam, 30 Juli 2007 itu. Dan sia-sia pula segala macam kuasa gelap yang selama ini kalian andalkan itu. ***