Minggu, 05 September 2010

Siapa Lagi yang Akan Kalian Bunuh?

 

Pertanyaan tersebut diberondongkan langsung oleh seorang tokoh terkemuka kepada Mikhael Torangama Kelen dan beberapa pendukungnya sembilan hari lalu di kampung Eputobi. Pada malam itu, nama si kepala komplotan pembunuh berdarah dingin itu disebut dengan sangat jelas di muka yang bersangkutan sendiri. Itu merupakan suatu tantangan real bagi dia yang memimpin aksi pembunuhan terhadap Yoakim Gresituli Ata Maran di Blou pada Senin malam 30 Juli 2007.

Meskipun diberondong dengan pertanyaan semacam itu, Mikhael Torangama Kelen dan orang-orang lain di sekitarnya hanya duduk merunduk tanpa suara. Sikap diam semacam itu bukan menunjukkan kelebihan, melainkan ketakberdayaan dalam menghadapi fakta yang belakangan ini berani disuarakan secara lebih terbuka. Stamina mental para pelaku pembunuhan tersebut tampak merosot tajam setelah berbagai upaya mereka untuk menutup perbuatan jahat mereka mengalami kegagalan. Upaya mereka menggunakan ilmu setan untuk menggoalkan maksud mereka untuk menghindari diri dari tanggung jawab hukum pun mengalami kegagalan. Mungkin uang yang masih dapat mereka andalkan. Tetapi cara itu pun hanya berhasil menunda proses hukum saja. Metode semacam itu tidak akan berhasil menggagalkan penindakan hukum terhadap para pelaku pembunuhan tersebut.

Penundaan proses hukum seperti terjadi selama ini tidak menguntungkan para tersangka dan rekan-rekan mereka yang juga terlibat dalam peristiwa pembunuhan tersebut. Dengan terus mempertahankan ketidakjujuran mereka akan menuai dampak buruk yang lebih mengerikan ketimbang yang dapat mereka bayangkan selama ini. Karena, seperti apa pun perkembangan penanganan perkara kejahatan itu ke depan, kejahatan yang mereka lakukan secara berjamaah itu tidak akan dibiarkan untuk tidak diberantas. 

Bahwa hingga kini mereka masih bebas berkeliaran di masyarakat, itu karena proses hukum memang dapat dibengkak-bengkokkan sesuka hati oknum-oknum penegak hukum tertentu. Sudah menjadi rahasia umum di negeri ini macam udang di balik upaya-upaya yang ditempuh oleh oknum-oknum penegak hukum tertentu untuk menutupi atau paling kurang untuk menghambat kelancaran proses hukum atas suatu perkara kejahatan. Macam udang di balik terkatung-katungnya proses hukum atas kasus pembunuhan Yoakim Gresituli Ata Maran pun jelas. Udang yang satu itulah yang membuat Mikhael Torangama Kelen dan anggota-anggota komplotannya merasa “nyaman” dengan kebohongan-kebohongan mereka. Mereka mengira dengan udang yang satu itu mereka berhasil menggagalkan seluruh proses hukum atas kejahatan yang mereka perbuat.

Tidak. Meskipun sejumlah oknum aparatur penegak hukum, yang nakal, berusaha mengganjal proses hukum atas perkara kejahatan tersebut, masih terbuka ruang yang luas bagi penegakan hukum. Apalagi musim kini mulai berganti, terutama ketika di sana sini muncul keberanian yang lebih signifikan di kalangan tertentu untuk ikut menegakkan kebenaran dan keadilan di tengah kehidupan masyarakat Lewoingu. Tekad untuk membela dan menutup kejahatan tersebut hanya terdapat dalam diri para pelaku dan antek-antek mereka, juga dalam diri oknum-oknum penegak hukum yang nakal. Di luar kelompok tersebut terdapat orang-orang yang takut menegakkan kebenaran dan keadilan karena alasan-alasan tertentu.

Tetapi selama penanganan kasus pembunuhan tersebut terkatung-katung, perilaku dan gerak gerik para penjahat Eputobi itu perlu terus diwaspadai. Mengapa? Sebelum pertanyaan tersebut diberondongkan secara jelas dan tegas ke muka Mikhael Torangama Kelen beberapa waktu lalu, tiga orang dari kalangan penjahat itu sendiri mengatakan secara terang dalam kesempatan yang berbeda bahwa “Satu sudah meninggal, empat orang lagi akan menyusul.” Nama keempat orang yang dikatakan akan menyusul itu pun disebut dengan jelas, yaitu Yos Kehuler, Sis Tukan, Dere Hayon, dan Pius Koten. Belum terhitung ancaman-ancaman yang pernah ditujukan terhadap keluarga korban.

Fakta-fakta di lapangan membenarkan adanya rencana jahat tersebut. Maka pertanyaan tertera di atas menjadi penting untuk diperhatikan, termasuk oleh para pegiat yang berusaha mempromosikan kesalehan-kesalehan palsu bagi masyarakat Eputobi. ***

Ceritera tentang Anjing yang Memakai Sandal

 

Salah satu kabar terbaru dari kampung Eputobi menyebutkan bahwa belakangan ini ditemukan seekor anjing yang memakai sandal alias sendal. Anjing yang memakai sendal itu beroperasi pada malam hari. Ceritera itu sempat membuat saya bertanya-tanya, “Kok ada anjing yang memakai sendal?” Tetapi rasa heran saya segera sirna setelah saya ingat bahwa sejak beberapa tahun lalu di kampung Eputobi sering berpatroli di malam hari seekor anjing hitam. Para pemerhati fenomena tersebut pernah berceritera kepada saya bahwa pernah ditemukan dua anjing hitam. Tetapi yang sering muncul adalah satu saja. Sejak tahun lalu, dalam beberapa kesempatan ditemukan dua anjing hitam.

Tanda kehadiran si anjing hitam adalah lolongan anjing-anjing lain yang saling bersahut-sahutan. Begitu si anjing hitam muncul, anjing-anjing piaraan yang ada di sekitarnya langsung melolong memecah kesunyian malam di kampung Eputobi. Dan ke mana si anjing hitam melangkah ke situ anjing-anjing lain pun mengarah. Kegiatan mereka sering diakhiri dengan gonggong mengonggong.

Saksi-saksi mata menuturkan bahwa sosok si anjing hitam lebih tinggi dan lebih besar dibandingkan dengan anjing-anjing piaraan setempat. Tonkrongannya berbeda dari tonkrongan anjing-anjing piaraan. Kalau anjing-anjing piaraan jelas pemiliknya, si anjing hitam tak jelas pemiliknya. Yang jelas si anjing hitam hanya muncul di malam hari. Sosoknya tak pernah tampak dalam terang sinar matahari. Pada malam hari si anjing hitam meronda sesuka hatinya. Rumah-rumah tertentu pernah dikunjunginya.

Setelah barang-barang bukti pembunuhan terhadap Yoakim Gresituli Ata Maran ditemukan dan disimpan untuk sementara di sebuah rumah di Eputobi, pada suatu malam si anjing hitam bertandang ke rumah tersebut. Dia sempat menampakkan sosoknya di pintu rumah itu. Si anjing hitam pun pernah bertamu ke rumah seseorang yang anaknya sedang menderita sakit. Pada suatu malam, di tahun 2008, si anjing hitam kepergok berada di sebuah rumah. Seorang anak gadis di rumah itu sempat nyaris bersenggolan dengan si anjing hitam. Kejadian itu membuat si anjing hitam tiba-tiba lenyap. Seketika itu juga muncul di hadapan anak gadis itu sosok seseorang yang terkenal sebagai salah seorang pengguna ilmu hitam di kampung Eputobi. Pada tahun 2004, orang itu pernah mengatakan kepada saya bahwa dia sudah bersih, dia tidak lagi menggunakan ilmu hitam. Pada waktu itu tampangnya kelihatan bersih dan segar. Tetapi setelah itu dia rupanya kembali tergoda untuk mengandalkan kekuatan setan. Belakangan ini tampangnya kelihatan kumal seperti orang yang jarang mandi. Tubuhnya menjadi kurus kering, dan tidak lagi menampakkan kesegaran.

Para pengamat fenomena penggunaan ilmu setan di kampung Eputobi mengetahui bahwa si pengguna ilmu hitam yang satu itu memiliki kemampuan untuk berubah rupa. Dia bisa berubah menjadi kucing atau anjing. Seorang mantan praktisi ilmu hitam pernah menjelaskan kepada saya bahwa kalau dia bisa berubah menjadi sosok binatang tertentu, itu berarti dia memiliki ilmu yang cukup tinggi. Karena, untuk bisa berubah rupa diperlukan energi yang besar. Ketika masih aktif sebagai praktisi ilmu hitam, narasumber saya itu berada pada 70 (tujuh puluh). Level tertinggi yang boleh ditempati oleh seorang praktisi ilmu hitam adalah 99 (sembilan puluh sembilan). Jika ada yang nekad mencapai level 100 (seratus), maka dia menjadi gila.

Kemampuan berubah rupa itu rupanya disosialisasikan juga kepada pengguna ilmu hitam lain di kampung tersebut. Ya, sebagai sesama pengguna ilmu setan, mereka saling belajar mengasah dan meningkatkan kemampuan. Maka kemampuan itu pun dimiliki pula oleh rekan satu grup dari si pengguna ilmu hitam yang bersangkutan. Mereka berdua bisa berubah rupa menjadi dua anjing hitam. Selama beberapa tahun terakhir, kedua pengguna ilmu setan itu bersama rekan-rekan mereka menjalin kerja sama yang erat untuk melawan setiap upaya untuk mengungkap hingga tuntas kasus pembunuhan yang dilakukan oleh Mikhael Torangama Kelen dan anggota-anggota komplotannya.

Ketika Mikhael Torangama Kelen dan tiga anggota komplotannya dikurung di Polres Flores Timur, pada suatu malam si anjing hitam pernah memunculkan diri di Mapolres Flores Timur. Kehadirannya disaksikan oleh anggota-anggota polisi yang sedang bertugas pada malam itu. Kehadirannya pun langsung mengundang lolongan dari anjing-anjing piaraan yang ada di sekitarnya. Seorang anggota polisi berceritera bahwa sosok si anjing hitam berbeda dengan sosok anjing-anjing piaraan yang selama ini dikenalnya. Lalu ketika para penjahat Eputobi sibuk memperjuangkan SP3, muncul pula beberapa kali si anjing hitam dan rekannya di sebuah rumah di Larantuka. Seperti biasa, kehadirannya langsung mengundang lolongan dari anjing-anjing piaraan di sekitarnya.

Belakangan ini si anjing hitam tampil dengan gaya baru. Dia memakai sandal. Dengan memakai sandal, si pengguna ilmu setan yang bersangkutan mungkin ingin memperlihatkan kehebatannya kepada lawan-lawannya. Tetapi bagi para pengamat setempat, fenomena tersebut justru memperjelas sosok sesungguhnya di balik si anjing hitam. Dia adalah si pengguna ilmu setan yang sudah menyusahkan banyak orang di sana. Fenomena itu pun menunjukkan bahwa para pengguna ilmu setan di sana semakin leluasa beroperasi dan berkreasi. Mereka sering bergerilia di malam hari untuk mengganggu atau mencelakakan orang-orang yang menjadi target operasi mereka.

Hingga kini mereka juga masih coba bergerilia untuk menggunakan ilmu setan untuk menutupi perbuatan biadab yang dilakukan oleh Mikhael Torangama Kelen dan anggota-anggota komplotannya di Blou. Paling kurang satu orang dari empat tersangka kasus Blou terkenal sebagai pengguna ilmu setan. Dulu dia berguru pada seorang pemakai ilmu hitam yang sudah cukup lama menjadi almarhum. Bersama seorang rekannya seperguruan, dia pernah mengikuti program latihan terbang di malam hari. Dalam latihan terbang itu mereka tersangkut pada cabang sebatang pohon asam. Maklum, waktu itu mereka baru pemula.

Apa pun upaya mereka untuk menutupi kasus Blou, mereka tidak berhasil. Kejahatan yang ingin mereka tutup-tutupi itu sudah terbuka lebar sejak awal. Karena terlalu banyak mengerahkan energi untuk mencelakakan orang dan untuk menutupi kejahatan tersebut, mereka akhirnya mengalami keletihan fisik dan mental. Maka tak mengherankan bila di antara mereka pun ada yang belakangan ini mulai menunjukkan perilaku-perilaku aneh. ***

Sabtu, 04 September 2010

Selamat Jalan Mamung

 

Kabar tentang wafatnya Mamung Kornelis K. Kelen saya terima siang ini dari kampung Eputobi. Kabar duka itu membuat saya sempat menundukkan kepala seraya merenungkan arti hidup manusia di dunia ini. Dan di hadapan saya terbentang kembali hari-hari kami bersama di kampung Eputobi, di SMP Swadaya Tuakepa, lalu di Seminari San Dominggo Hokeng di Flores Timur tempo doloe. Sebagai saudara, Mamung Kornelis dan dua saudaranya serta seorang saudarinya adalah bagian dari keluarga besar kami. Dan rasa persaudaraan itu tetap hidup.

Sebagai saudara kami menggunakan kata “mamung” (saudara laki-laki) untuk saling menyapa. Kata itu menyatakan relasi kekeluargaan khas. Maka kata itu pun tak digunakan oleh sembarang orang. Di seluruh kawasan Lewoingu hanya sedikit orang yang saling menyapa dengan kata “mamung.” Di antara yang sedikit itu, almarhum termasuk yang sering menggunakannya.

Setelah tahun 1980, saya tak lagi bersua langsung dengan Mamung saya yang kini sudah jadi almarhum itu. Pada bulan Januari 1980, kami bertemu di Surabaya. Pada waktu itu, Mamung Kornelis tinggal di Madiun. Setelah mengetahui bahwa saya dan seorang saudara saya berada di Surabaya dalam perjalanan ke Jakarta, dia menyempatkan diri pergi ke Surabaya. Lalu kami diajaknya ke Madiun. Di Madiun kami menginap di rumah Pak Guru Sedu Kelen. Keesokan harinya saya kembali ke Surabaya untuk meneruskan perjalanan saya ke Jakarta.

Tiga puluh tahun setelah perjumpaan di Surabaya dan di Madiun itu, saya menerima kabar duka itu. Mamung saya itu sudah dipanggil Tuhan untuk meneruskan hidupnya di alam baka. Kepergiaannya membuat saya menelusuri kembali ceritera-ceritera masa lalu ketika kami sama-sama masih muda belia di Lewoingu dan sekitarnya. Dan saya teringat bahwa sejak dulu Mamung saya itu terkenal sebagai seseorang yang memiliki tekad kemauan yang kuat dalam usaha untuk meraih cita-citanya. Dia juga seorang humoris. Dia memiliki kecakapan dalam menjalin relasi pertemanan dengan sesamanya. Lalu dia juga terkenal sebagai salah seorang pemain sepak bola yang hebat.

Di antara orang Eputobi yang berada di perantauan, Mamung saya itu termasuk salah seorang yang memiliki pengetahuan yang cukup banyak tentang sejarah Lewoingu. Itulah landasan historis yang membuat dia menyikapi kejahatan yang terjadi di Eputobi dengan caranya sendiri. Meskipun dia pun sempat digoda untuk ikut bergabung dalam barisan orang-orang yang membela kejahatan yang terjadi di kampung Eputobi pada tahun 2007, dia tetap berusaha bergerak pada rel sejarah dan fakta-fakta yang dia peroleh dari sumber-sumber yang terpercaya. Dan dengan caranya sendiri dia berusaha membela kebenaran dan keadilan.

Kini dia sudah berjumpa dengan kebenaran dan keadilan yang selama ini dia ikut perjuangkan. Dengan pergi ke alam baka, dia mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi di Blou pada Senin malam 30 Juli 2007. Kini dia mengetahui persis siapa saja orang-orang yang beraksi pada malam itu di Blou, yang membuat salah seorang Mamungnya (Yoakim Gresituli Ata Maran) meninggalkan dunia ini. Di sana, di alam baka, mereka saling berjumpa sebagai saudara dari suatu keluarga.

Selamat Jalan Mamung. Sebagai orang beriman, kami percaya, bahwa Belas Kasih Bapa Kita membuka Pintu RumahNya bagimu. Kami percaya, di RumahNya Itulah Mamung Tinggal untuk selama-lamanya. ***

Jumat, 27 Agustus 2010

Mediator Kejujuran

 

Berdasarkan fakta-fakta yang ada, posisi Mikhael Torangama Kelen dan anggota-anggota komplotannya sangat jelas. Mereka adalah pelaku kebiadaban yang menewaskan Yoakim Gresituli Ata Maran di Blou pada Senin malam 30 Juli 2007. Para pendukung dan simpatisan mereka adalah orang-orang yang tersesat, sehingga mereka pun secara membabi buta ikut berjuang menutupi kejahatan tersebut.

Jika demikian kenyataannya, perlukah ada damai antara masyarakat beradab dan komplotan penjahat yang dipimpin oleh MTK? Masyarakat beradab tidak membutuhkan perdamaian, karena selama ini mereka menjadi pelaku-pelaku perdamaian berdasarkan kendali moral yang ada dalam diri mereka. Tampak jelas bahwa yang haus dan lapar akan perdamaian adalah para penjahat dan para pendukung mereka. Ingatlah bahwa kalau anda merasa haus dan lapar, itu tanda bahwa tubuh anda kekurangan air dan makanan. Rupanya para penjahat dan para pendukung mereka menderita kekurangan ………………….. sehingga mereka pun merengek-rengek minta damai. DDK sendiri pernah merengek minta damai. Si MTK pun demikian. Beberapa orang dari kubu penjahat itu pernah berusaha sekuat tenaga untuk menemui RRM untuk urusan damai sesuai selera mereka. Tetapi mereka gagal menemui RRM.

Masyarakat beradab di sana tidak butuh perdamaian. Yang mereka butuhkan adalah kejujuran dari si MTK, si LLK, dan anggota-anggota komplotan mereka mengakui perbuatan jahat mereka di Blou itu secara jujur dan apa adanya. Maka jelas pula, bahwa yang diperlukan bukan mediator perdamaian, melainkan mediator kejujuran, yang membantu si MTK, si LLK, dan anggota-anggota komplotan mereka untuk mengakui secara jujur perbuatan jahat yang mereka lakukan di Blou pada Senin malam 30 Juli 2007.

Untuk itu orang-orang seperti Dami Kumanireng dan Fr. Mario Kumanireng dapat menjadi mediator kejujuran bagi tiga anak Lamber Liko Kumanireng agar mereka tidak terlalu lama menyimpan dalam hati mereka kejahatan yang mereka lakukan demi kepentingan kekuasaan politik si MTK. Setelah mengetahui ceritera tentang keterlibatan saudara-saudaranya dalam kasus kejahatan tersebut, salah seorang anak dari Lamber Liko Kumanireng pernah memarahi adiknya yang ikut beraksi di Blou di bawah komando si MTK. Di hadapan saya, pada hari Minggu, 30 September 2007, Lamber Liko Kumanireng membantah keterlibatan ketiga anaknya itu dalam tragedi di Blou. Itu merupakan salah satu bentuk pembelaan secara keliru seorang tua terhadap anak-anaknya yang melakukan suatu kejahatan besar.

Saya kira perlu juga dicarikan mediator untuk membawa pencerahan bagi orang-orang seperti DDK dan ABK agar mereka pun bisa menyadari bahwa kejujuran demi tegaknya kebenaran dan keadilan bagi masyarakat Lewoingu itu lebih berharga ketimbang segala macam upaya yang dimaksukan untuk menutupi kejahatan yang dilakukan oleh si MTK, si LLK, dan anggota-anggota komplotan mereka di Blou. Kepada para penjahat perlu diingatkan bahwa banyak orang di Eputobi terkena dampak negatif dari kejahatan yang mereka lakukan dan ketidakjujuran yang mereka perlihatkan selama ini. Ini salah satu tanda nyata bahwa kasus pembunuhan tersebut dan segala rententan persoalan yang terkait dengannya sesudahnya bukan urusan pribadi. Dosa itu berdimensi sosial. Kejahatan, termasuk pembunuhan terhadap Yoakim Gresituli Ata Maran itu pun berdimensi sosial. Upaya keluarga kami bersama saudara saudari kami dari berbagai suku lain di Lewoingu untuk mengungkapkan kebenaran, itu bukan urusan pribadi kami. Itu merupakan urusan bersama, itu merupakan urusan kampung halaman. Itu merupakan urusan Lewoingu. 

Seorang dari kalangan berjubah berdomisili di kota Maumere pernah mengungkapkan rasa prihatinnya, “Mengapa teman-teman di sana (di Larantuka) ikut-ikutan mendiamkan kejahatan yang sangat mengerikan itu?” Berbagai kalangan di luar kawasan Lewoingu pun terus mendorong keluarga korban untuk terus maju dalam perjuangan hingga berhasil menyerert para pelaku kejahatan tersebut ke pengadilan. Ini menunjukkan bahwa pembunuhan terhadap Yoakim Gresituli Ata Maran merupakan kejahatan kemanusiaan yang patut disikapi secara bersama. Dalam menghadapi kejahatan kemanusiaan yang mengerikan itu, banyak orang terketuk hatinya untuk berpartisipasi dalam upaya untuk memenangkan perang melawan kejahatan itu. 

Yoakim Gresituli Ata Maran yang mati dibunuh di Blou itu lahir dari suatu keluarga, dari suatu suku, dari suatu komunitas sosial dari suatu kampung. Ia hidup dan berkembang dalam berbagai konteks sosial. Maka kematiannya pun merupakan urusan sosial, bukan urusan pribadi. Kalau kenyataan semacam itu dan kenyataan-kenyataan lain terkait tidak diperhatikan, maka yang terjadi adalah bertumbuhnya kesalehan-kesalehan palsu sebagai bagian dari kedok untuk menutupi kejahatan yang sangat mengerikan itu. ***

Mungkinkah MTK dan LLK dan Anggota-anggota Komplotan Mereka Bukan Pelaku Tragedi Blou?

 

Jawaban atas pertanyaan tertera di atas sangat jelas: Tidak mungkin MTK (Mikhael Torangama Kelen) dan LLK (Lambertus Lagawuyo Kumanireng) serta anggota-anggota komplotan mereka bukan pelaku pembunuhan terhadap Yoakim Gresituli Ata Maran di Blou. Dalam formula afirmatif, MTK dan LLK serta anggota komplotan mereka adalah orang-orang yang menghabisi Yoakim Gresituli Ata Maran.

Di belakang aksi brutal mereka di Blou terdapat The Prince of Darkness. He is a master of deception. To practice deception on the public is his job. But now he is finding himself as old man, who can not bury the truth by his deception. The truth is still there in the beam of light from heaven. And no one can chase the truth from its position.

Semua fakta yang ditemukan melalui proses investigasi secara jelas menunjukkan bahwa MTK dan LLK serta anggota-anggota komplotan mereka itulah yang membunuh Yoakim Gresituli Ata Maran. Itulah kebenaran yang mustahil dapat dikuburkan oleh siapa pun. Itulah kebenaran yang tak mungkin dapat dihapus oleh para pelaku kejahatan tersebut serta antek-antek mereka. Semakin gencar mereka berusaha untuk mengingkari kejahatan yang mereka lakukan secara berjamaah itu, justru semakin terungkap fakta-fakta yang memperlihatkan bahwa mereka itulah yang menjadi pelaku tragedi Blou.

Bahwa sebagian dari fakta-fakta tentang kejahatan mereka belum digunakan oleh para penyidik Polres Flores Timur untuk mengungkap kasus pembunuhan tersebut hingga tuntas, itu urusan mereka. Tetapi perlu diperhatikan bahwa di hadapan keluarga korban beberapa waktu lalu, Kapolres Flores Timur dan Kasat Reskrim Flores Timur menyatakan secara lisan keseriusan mereka untuk menangani perkara pembunuhan tersebut. Yang digunakan oleh Kapolres adalah kata-kata “sangat serius.” Sehingga pihak keluarga korban pun boleh berharap bahwa di bawah Kapolres yang sekarang, kasus pembunuhan tersebut dapat diusut dan diungkap hingga tuntas. Dengan demikian keempat tersangka dan rekan-rekan mereka yang juga terlibat dalam peristiwa pembunuhan tersebut dapat diseret ke pengadilan.

Pergantian Kepala Kejaksaan Negeri Flores Timur beberapa waktu lalu pun ikut membesarkan hati kami, bahwa para tersangka dapat diajukan ke pengadilan. Pergantian Kepala Kejaksaan tersebut membuat si LLK kehilangan salah satu cenel di lingkungan Kejaksaan Negeri Flores Timur. Untuk menutupi keterlibatannya dalam kasus Blou si LLK pernah menjalin kontak-kontak dengan oknum-oknum polisi dan oknum-oknum jaksa tertentu di Flores Timur. Dia bahkan menempuh segala macam cara untuk menutupi kejahatan yang dia dkk lakukan di Blou. Tetapi si LLK lupa bahwa dia sendiri pernah mengindikasikan keterlibatannya dalam peristiwa pembunuhan terhadap Yoakim Gresituli Ata Maran di Blou pada Senin malam 30 Juli 2007.

Bahwa si MTK, si LLK, dan anggota-anggota komplotan mereka hingga kini masih bebas berkeliaran, itu tak dapat dijadikan bukti bahwa mereka itu bukan pembunuh Yoakim Gresituli Ata Maran. Itu bisa terjadi karena kelalaian dan kelambanan pihak kepolisian setempat dalam menangani perkara pembunuhan tersebut. Bukankah terdapat oknum-oknum polisi yang pernah berusaha sekuat tenaga untuk merekayasa kasus pembunuhan tersebut menjadi kasus kecelakaan lalu lintas. Kolaborasi mereka dengan para penjahat Eputobi itu nyaris berujung pada kriminalisasi pihak keluarga korban. Usaha mereka untuk mengkriminalisasi pihak keluarga korban terbilang gencar. Untuk membela kepentingan para penjahat Eputobi itu beberapa oknum polisi pun melakukan intimidasi dan ancaman terhadap pihak keluarga korban.  Laporan-laporan yang tidak berdasar dari pihak tersangka dengan mudah mereka proses. Mereka juga sempat bekerja sama untuk memantau kegiatan penyidik Polda NTT yang ditugaskan untuk menangani perkara pembunuhan tersebut.

Fakta-fakta yang menunjukkan keterlibatan si MTK, si LLK, dan anggota-anggota komplotan mereka sebagai pembunuh Yoakim Gresituli Ata Maran sangat jelas. Sedangkan tak ada satu pun fakta yang dapat membuktikan bahwa mereka itu bukan pembunuh Yoakim Gresituli Ata Maran. Sejak terjadinya tragedi Blou hingga sekarang, orang-orang seperti DDK, MTK, LLK tidak sanggup menyodorkan bukti-bukti yang secara akurat dapat menjelaskan kepada para aparatur penegak hukum dan kepada publik bahwa bukan MTK, LLK, dan anggota-anggota komplotan mereka yang membunuh Yoakim Gresituli Ata Maran.

Fakta-fakta tentang perbuatan jahat mereka itu tak bisa dianulir oleh siapa pun. Fakta-fakta itulah yang akan dijadikan dasar yang kuat bagi pemberantasan kejahatan yang dilakukan oleh MTK, LKK, dan anggota-anggota komplotan mereka. Membiarkan kejahatan tersebut tidak diberantas merupakan suatu kejahatan. ***

Sabtu, 21 Agustus 2010

Siapakah Perempuan Itu?

 

Tidak hanya orang bejenis kelamin laki-laki yang menjadi anggota komplotan penjahat Eputobi yang dipimpin oleh Mikhael Torangama Kelen. Ada pula orang berjenis kelamin perempuan yang ikut bergabung ke dalam komplotan tersebut. Salah satunya hadir di Blou ketika Yoakim Gresituli Ata Maran dibunuh.

Kehadiran seorang perempuan di tempat kejadian perkara (TKP) di Blou pada malam kejadian perkara (30/7/2007) sudah lama terpantau. Warna baju yang dikenakannya ketika hadir di TKP pun dapat dipantau. Dia hadir di pondok yang berjarak tujuh puluh meter di sebelah utara jalan raya. Dan dia tahu persis siapa saja yang terlibat dalam aksi penganiayaan terhadap Yoakim Gresituli Ata Maran.

Siapakah perempuan itu? Dia bukan dewi malam. Dia adalah seorang perempuan yang sudah biasa “bermain dalam gelap.” Maka dia pun mau menghadirkan diri di arena gelap tempat pembantaian itu terjadi.

Dia adalah seorang perempuan yang pernah mengatakan bahwa kematian Yoakim Gresituli Ata Maran murni karena kecelakaan lalu lintas, bukan karena sebab-sebab lainnya. Di kubunya, dia terkenal sebagai seorang aktivis yang tak pernah ketinggalan dalam berbagai aksi untuk menutupi kejahatan yang disaksikan dengan matanya sendiri di Blou pada Senin malam 30 Juli 2007. Setelah aksi-aksi tersebut tidak membuahkan hasil, dia pun tidak lagi banyak berkicau. Sebelum tanggal 30 Juli 2007, perempuan yang satu itu pun hadir dalam pertemuan-pertemuan yang merencanakan pembunuhan tersebut.

Siapakah perempuan yang satu itu, sehingga ikut pergi ke Blou pada malam itu untuk menghadiri acara pembunuhan tersebut? Jawabannya begini, Dia adalah selingkuhan alias simpanan dari salah seorang aktor yang menghabisi Yoakim Gresituli Ata Maran. Maklum, mereka sudah biasa “bermain bersama dalam gelap”. Maka bersama pula mereka berada dalam gelap malam di Blou. ***

Ke mana raibnya sendal milik korban tragedi Blou?

 

Ketika dihadang lalu dikeroyok hingga meninggal oleh Mikhael Torangama Kelen dan anggota-anggota komplotannya, Yoakim Gresituli mengenakan celana jean dan kaos berwarna biru. Kakinya mengenakan sendal merk OMEGA warna hitam. Ketika ditemukan dalam keadaan tak bernyawa di dalam parit di pinggir jalan raya di Blou, sendalnya itu tidak kelihatan. Hingga kini sendal itu raib. Sudah dilakukan upaya-upaya untuk mencari sendal itu. Tetapi hasilnya nihil.

Mungkinkah sendal itu menghilang sendiri? Itu jelas mustahil terjadi. Mana ada sendal yang bisa melenyapkan diri sendiri dari kaki orang yang memakainya. Raibnya sendal milik korban adalah akibat ulah tangan dan kaki salah seorang pelaku yang hingga kini belum ditetapkan sebagai tersangka. Dia adalah orang yang belakangan ini mengalami goncangan batin hebat. Dia adalah orang yang akhir-akhir ini semakin merasa tidak tenang, karena berbagai upayanya untuk menutup keterlibatannya dalam peristiwa pembunuhan terhadap Yoakim Gresituli Ata Maran semakin tidak mempan.

Dia adalah orang yang pada malam kejadian perkara, yaitu pada Senin malam 30 Juli 2007 mencomot sendal milik korban pembunuhan tersebut lalu membawanya ke Eputobi. Pada Selasa pagi 31 Juli 2007, si penjahat yang bertubuh kurus itu sempat mengenakan sendal tersebut. Setelah mendengar suara-suara yang berbicara tentang raibnya sendal korban, si penjahat yang satu itu pun membuangnya agar jejak kejahatan yang dilakukannya bersama Mikhael Torangama Kelen dkk tidak terendus.

Dia adalah orang yang pada Kamis pagi 2 Agustus 2007 terlihat panik. Pagi hari itu dia terlibat pembicaraan dengan Mikhael Torangama Kelen dan Laurensius Kweng dalam suasana panik. Pembicaraan mereka terjadi di halaman di antara dapur dan rumahnya.

Dia adalah orang yang pada hari Minggu 5 Agustus 2007 sekitarnya pukul 15.00 waktu setempat bersama Lamber Kelen, Anton Emar, Yosef Lubur pergi ke Lewookineng alias Kampung Lama untuk menutup tempat untuk menyimpan barang pusaka tertentu yang mereka buka pada hari Minggu 29 Juli 2007.

Di kampung Eputobi dia terkenal sebagai salah seorang pengguna ilmu hitam, yang selama ini menyusahkan banyak orang. Masyarakat setempat mengenalnya sebagai seorang suanggi yang gemar meniupkan angin hitan kepada orang-orang yang tidak disukainya, termasuk kepada beberapa tetangganynya yang sekubu dengannya. Sebagai pengguna ilmu hitam alias suanggi, dia terkenal sebagai “Si Anjing Hitam” yang punya kebiasaan melakukan ronda pada malam hari. Sebagai seorang pengguna ilmu hitam, dia sibuk mengerahkan segala macam kekuatan magis untuk menutup kasus pembunuhan yang dia dan teman-temannya lakukan di Blou pada Senin malam 30 Juli 2007. Untuk tujuan tersebut dia pun mengerahkan para pengguna ilmu hitam dari luar kawasan Lewoingu.

Tetapi segala macam upayanya itu sia-sia. Berbagai kekuatan magisnya mulai melempen dan tak dapat diandalkan lagi. Dan sentuhan magisnya tak lagi berdayaguna. Maka tak mengherankan bila belakangan ini dia menjadi orang yang paling tidak tenang di antara anggota-anggota komplotan penjahat Eputobi yang dipimpin oleh Mikhael Torangama Kelen.

Aliran waktu akan menggiring dia ke persoalan yang lebih besar bagi dirinya. Pada waktu itu nanti segala macam kecongkakannya seperti yang diperlihatkannya selama ini tak akan lagi tampak. Dan banyak orang akan menertawakannya seraya berpekik sorak? ***