Senin, 20 September 2010

Kebenaran Tak Bisa Digadaikan

 

Seandainya polisi setempat memiliki tekad yang jelas dan tegas untuk menegakkan kebenaran dan keadilan, siapa pun yang terlibat dalam peristiwa pembunuhan terhadap Yoakim Gresituli Ata Maran sudah ditindak secara hukum. Selain empat orang yang sudah ditetapkan sebagai tersangka, Lambertus Lagawuyo Kumanireng dan beberapa orang lain pun semestinya dapat diciduk dan diproses secara hukum. Seandainya polisi setempat mau serius mengungkap kasus pembunuhan tersebut, Donatus Doni Kumanireng dan Andreas Boli Kelen pun perlu menjalani pemeriksaan secara intensif.  Tetapi hingga kini anggota-anggota polisi yang ditugaskan untuk menyelidiki dan menyidik perkara pembunuhan tersebut hanya berfokus pada empat orang yang telah ditetapkan sebagai tersangka, yaitu Mikhael Torangama Kelen, Yoakim T. Kumanireng, Yohanes K. Kumanireng alias Yoka Kumanireng, dan Laurens D. Kumanireng. Akibatnya, berkas acara pemeriksaan atas empat tersangka hanya dipimpong dari Polres ke Kejaksaan Negeri Flores Timur dan sebaliknya. 

Paling kurang terdapat satu kesaksian, di luar kesaksian Petrus Naya Koten alias Pite Koten alias Pendek Pite, yang jika diperdalam dan dikembangkan, dapat menjadi jalan untuk mengungkap lebih jauh fakta-fakta lain yang selama ini coba ditutup-tutupi Mikhael Torangama Kelen dan anggota-anggota komplotannya. Dengan memperdalam dan mengembangkan arah penyelidikan dan penyidikan, segala macam jurus dusta yang selama ini diandalkan oleh keempat tersangka menjadi tidak berarti. Tetapi upaya untuk memperdalam dan mengembangkan penyelidikan dan penyidikan belum juga nampak.

Dalam proses penyidikan sejauh yang sudah berlangsung, seorang oknum penyidik malah berusaha mengalihkan latar terjadinya pembunuhan tersebut ke latar selingkuh. Istilah selingkuh yang muncul di salah satu ruang pemeriksaan di Polres Flores Timur pada tahun 2009 itu tentu berasal dari pihak pelaku pembunuhan tersebut. Tuduhan yang tidak sesuai dengan kenyataan itu sengaja dikembangkan kemudian dilaporkan oleh mereka yang menjadi pelaku ke oknum-oknum polisi tertentu sebagai upaya untuk menjerat orang-orang yang mereka kambinghitamkan. Dengan cara itu, mereka berharap dapat lolos dari jerat hukum.

Terdapat indikasi-indikasi yang menunjukkan bahwa sejak awal muncul oknum-oknum polisi yang berusaha merekayasa kasus pembunuhan tersebut menjadi kasus kecelakaan lalu lintas. Pada waktu itu, oknum-oknum polisi yang berteman dekat dengan Mikhael Torangama Kelen itu menempuh cara-cara yang halus, sehingga tidak kentara bahwa mereka merekayasa sebab kematian Yoakim Gresituli Ata Maran. Tetapi jelas, bahwa hasil kerja mereka cocok betul dengan keinginan Mikhael Torangama Kelen dan anggota-anggota komplotannya.

Mikhael Torangama Kelen dkk kemudian secara terang-terangan berinisiatif melobi K. Melki Bagailan selaku Kasat Lantas dan Abdul Syukur sebagai Kapolres Flores Timur. Di tangan oknum polisi semacam Abdul Syukur dan K. Melki Bagailan dan timnya, upaya rekayasa tersebut coba disempurnakan. Untung bahwa upaya oknum-oknum polisi itu tidak sepenuhnya berhasil. Tetapi upaya kotor mereka berhasil memperlambat proses hukum atas pelaku-pelaku pembunuhan tersebut.

Dengan segala macam cara kebenaran dalam seluruh rangkaian peristiwa pembunuhan terhadap Yoakim Gresituli Ata Maran coba digadaikan ke sana ke mari. Upaya semacam itu berhasil mendatangkan keuntungan sesaat bagi mereka yang terlibat dalam urusan kotor semacam itu.

Ada yang tangannya sangat kotor berlumuran darah, maka takut menjalani proses hukum. Untuk dapat lolos dari jerat hukum mereka pun gencar menggalang dana. Ketika pecah konflik yang melibatkan suatu keluarga yang beberapa anaknya telah ditetapkan sebagai tersangka, muncul kata-kata dari salah satu pihak terkait bahwa kami ini yang ikut kumpulkan uang, sehingga anak-anak kamu keluar dari bui. Ada yang karena ingin menikmati keuntungan sesaat, maka rela membiarkan kebenaran dan keadilan digadaikan. 

Bagi kami, kebenaran dalam seluruh rangkaian tragedi Blou tak bisa digadaikan untuk kepentingan apa pun. Berjuang untuk menegakkan kebenaran merupakan suatu tugas mulia, yang mustahil dapat kami korbankan demi kepentingan lain mana pun. Tanpa kebenaran, keadilan tak dapat diwujudkan.

Dalam kehidupan di dunia ini, kebenaran itu harus terus-menerus diupayakan untuk terwujud. Tak ada kebenaran yang jatuh begitu saja dari langit. Dalam kehidupan bernegara, polisi dan jaksa menjadi bagian dari aparatur yang berada di garis depan untuk menegakkan kebenaran legal formal. Untuk itu mereka diberi otoritas dan wewenang hukum tertentu. Tetapi ketika seorang aparatur penegak hukum merosot statusnya menjadi seorang oknum aparatur penegak hukum, maka kebenaran dapat digadaikan.

Bagi kami, kebenaran tak dapat digadaikan untuk kepentingan apa pun. ***

Jumat, 17 September 2010

Tangan Keras Seorang Guru Wanita

 

Tangan seorang guru, apalagi seorang guru wanita, mestinya dipakai untuk merawat, memelihara, mendidik, dan melakukan perbuatan-perbuatan baik, tidak hanya bagi anak-anak didiknya, tetapi juga demi kebaikan sesamanya. Namun tangan ibu guru yang satu itu rupanya dipakai untuk melakukan kekerasan terhadap sesamanya seorang wanita di kampung halamannya – Eputobi-Lewoingu, Flores Timur. Itulah tangan Tide Kumanireng yang beberapa hari lalu berhasil memukul Nela Kumanireng.

Aksi pemukulan yang dilakukan oleh Tide Kumanireng itu mengingatkan saya akan kekerasan yang pernah dilakukannya terhadap seorang murid SDK St. Pius X Eputobi. Karena diperlakukan dengan sangat keras murid yang bersangkutan mengalami trauma, lalu terpaksa pindah sekolah. Aksi kekerasan yang dilakukan oleh guru SDK Eputobi itu pun mengingatkan saya akan aksi kekerasan yang pernah dilakukan oleh Yanto Lubur terhadap Ece Koten. Pernah, Ece Koten pun nyaris diperlakukan secara keras oleh Heri Kelen, anak dari Anis Kelen, rekan sekerja ibu guru Tide Kumanireng di SDK Eputobi. Belum terhitung kekerasan verbal yang dilakukan oleh Evi Kumanireng, guru TK Demon Tawa Eputobi-Lewoingu, dan oleh Marta Angin, isteri Anis Kelen terhadap Yos Kehuler dan Sis Tukan. Rensu Kweng, suami Tide Kumanireng pun pernah mengatakan kepada Aci Koten, “Seandainya engkau itu laki-laki, saya angkat banting engkau hingga jatuh ke tanah.”

Kekerasan terhadap Ece Koten sempat dilaporkan ke Polsek Wulanggitang yang bermarkas di Boru. Ketika diancam disel, si pelaku menangis ketakutan. Guna mencegah proses hukum lebih lanjut, Mikhael Torangama Kelen mendatangi Polsek Wulanggitang. Maklum Yanto Lubur adalah salah satu anak buahnya. Urusannya akhirnya berhenti di Polsek tersebut.

Seperti apa sikap Mikhael Torangama Kelen terhadap kekerasan yang dilakukan oleh Tide Kumanireng? Perlu dicatat bahwa Tide Kumanireng adalah seorang pendukung setia Mikhael Torangama Kelen. Bersama suaminya, ibu guru itu pun ikut berjuang agar kejahatan yang dilakukan oleh Mikhael Torangama Kelen dan anggota-anggota komplotannya di Blou pada Senin malam 30 Juli 2007 itu dapat ditutup rapat. Ayah Tide Kumanireng, Yohanes Ola Kumanireng adalah orang yang pada Selasa pagi 31 Juli 2007 merayakan keberhasilan aksi kejahatan yang dilakukan oleh Mikhael Torangama Kelen dan anggota-anggota komplotannya itu. Sebelum terjadi tragedi Blou, orang ini pernah mengancam membuat Pius Koten dan Akim Maran jatuh terkapar hingga menggigit tanah. Setelah terjadi tragedi Blou, dia mengeluarkan kata-kata, Gresituli sudah mati, tinggal Raga dan Nuba. Dan secara tidak langsung, dia pun pernah mengancam anak-anak almarhum Gresituli Ata Maran. Apakah dia mengira bahwa dia akan berganti kulit untuk hidup selamanya di dunia ini?

Karena takut kasus tersebut dilaporkan ke polisi, Mikhael Torangama Kelen dan Lambertus Lagawuyo Kumanireng tampak repot berkoordinasi. 

Ma Kumanireng dan Yuven Koten sudah merasakan suasana hidup di balik jeruji penjara Larantuka. Tide Kumanireng akan menyahut panggilan Ma Kumanireng dan Yuven Koten, jika pihak korban kekerasannya mau melaporkannya ke Polres Flores Timur.  Ganjaran hukum atas kasus pemukulan seperti yang dilakukan oleh Tide Kumanireng adalah empat bulan penjara. ***

Minggu, 12 September 2010

Kejahatan dan Proses Pembusukan Hati Nurani

 

Setelah terjadi peristiwa pembunuhan terhadap Yoakim Gresituli Ata Maran pada Senin malam 30 Juli 2007 dan setelah terungkap siapa saja pelakunya, orang-orang Eputobi menentukan sikap. Muncul dua konfigurasi sosial. Mereka yang merasa berutang budi terhadap Mikhael Torangama Kelen (melalui raskin, blt, dll) memilih berkubu ke kepala komplotan pembunuh berdarah dingin itu. Bersama mereka bersatu padu membela kejahatan yang dilakukan oleh Mikhael Torangama Kelen dan anggota-anggota komplotannya. Bersama mereka berjuang untuk melanjutkan masa pemerintahan Mikhael Torangama Kelen yang berciri dasar korup dan despotis. Dengan gairah yang meluap-luap, mereka memeriahkan pesta yang diselenggarakan untuk merayakan dan memuliakan kejahatan yang dilakukan oleh Mikhael Torangama Kelen dan anggota-anggota komplotannya. Dengan bermodalkan sedikit uang dari penyelenggara aksi, mereka pun dengan penuh gairah mengikuti beberapa aksi unjuk rasa yang dirancang untuk menuntut penghentian proses hukum atas perkara pembunuhan tersebut.

(And The Prince of Darkness has played his role in those activities. He is now sitting there on his brittle throne. Yes, his throne is likely to snap. And  it is likely to fall down any minute. He now becomes a very lonely old man who has no power anymore to defend his position. And no one can help him from his falling down. In his loneliness he sometimes looks himself in the mirror, but he does not recognize himself anymore. There also no voice from his heart to tell who he is. The Prince of Darkness is really now in the dark space. In the darkness he struggles with himself). 

Mereka yang membela kebenaran memilih berkubu ke keluarga korban. Bersama keluarga korban mereka bukan saja pernah merasakan dukacita, tetapi juga berjuang tak kenal lelah agar kebenaran dapat ditegakkan di tengah kehidupan masyarakat Eputobi-Lewoingu. Pilihan sikap semacam ini sering dicemooh oleh orang-orang jahat itu. Tetapi bagi kami kebenaran lebih penting untuk ditegakkan, ketimbang membiarkan diri dibodohi oleh orang-orang jahat itu. Dalam perjuangan menegakkan kebenaran, kelompok ini mendapat tekanan bertubi dari mereka yang membela kejahatan yang dilakukan oleh Mikhael Torangama Kelen dan anggota-anggota komplotannya. Di antara anggota kelompok pembela kebenaran ini, ada yang mengalami kekerasan fisik berupa pemukulan dan pencekekan, ada pula yang dihina dengan kata-kata kotor dan kasar di muka umum, dan ada pula yang wajahnya diludahi di muka umum. Tak terhitung ancaman dan intimidasi yang pernah mereka peroleh dari orang-orang jahat itu. Tetapi berkat kendali moral yang kuat, maka pancingan-pancingan dari orang-orang jahat itu tidak ditanggapi secara kasar, padahal dalam kasus-kasus semacam itu harga diri mereka direndahkan. Bersama kami menyadari bahwa itu semua adalah risiko dari suatu perjuangan untuk menegakkan kebenaran dan keadilan. Toh waktu akan mempermalukan setiap mereka yang selama ini menggairahkan diri mereka masing-masing untuk membela kejahatan tersebut.

Meluap-luapnya gairah mereka untuk membela kejahatan tersebut menunjukkan bahwa pembunuhan yang dilakukan oleh Mikhael Torangama Kelen dan anggota-anggota komplotannya itu berhasil pula membusukkan kepribadian dan hati nurani sejumlah orang Eputobi. Proses pembusukan itu terjadi secara sistematis dan teratur melalui serangkaian pertemuan yang digelar dari rumah ke rumah, dari desa hingga ke kota, dan sebaliknya, juga melalui mekanisme politisasi raskin dan blt, serta melalui politik pencitraan semu ketokohan si kepala komplotan penjahat Eputobi itu yang dianggap berhasil memajukan Eputobi. Bagi orang-orang jahat itu, kemajuan semu seperti yang mereka gembar-gemborkan selama ini dianggap lebih berharga ketimbang upaya-upaya nyata untuk mengungkapkan kebenaran bahwa Mikhael Torangama Kelen dan anggota-anggota komplotannyalah yang membunuh orang yang tidak bersalah itu.

Menarik bahwa proses pembusukan tersebut pun mengenai pula orang-orang yang konon terpelajar dari kubu penjahat itu. Tidak hanya itu. Beberapa orang dari kalangan kerjubah yang berasal dari kubu tersebut pun terkena proses pembusukan yang sama. Di antara mereka ada yang cukup bergairah untuk mempromosikan kesalehan-kesalehan palsu atas nama perdamaian. Bagaimana mungkin damai bisa terwujud di tengah kehidupan masyarakat Eputobi-Lewoingu, jika hak hidup warganya tidak mendapat perlindungan yang memadai, jika perbedaan pandangan politik diselesaikan dengan jalan kekerasan fisik berupa pembunuhan? Bagaimana mungkin damai bisa terwujud di Eputobi, jika kebenaran tentang tragedi Blou terus diupayakan untuk disembunyikan, baik oleh para pelaku tragedi itu sendiri maupun oleh orang-orang yang mendukung mereka?

Apa yang terjadi di kampung Eputobi selama beberapa tahun terakhir merupakan pentas paling vulgar tentang penjungkirbalikan tatanan nilai hasil kesepakatan leluhur-leluhur Lewoingu. Untung bahwa penjungkirbalikan tatanan nilai itu hanya terjadi di kubu penjahat Eputobi. Dalam hal itu perjuangan orang-orang seperti DDK, MTK, LLK, dan reka-rekan mereka berhasil. ***

Sabtu, 11 September 2010

Ketidakjujuran dan Kebinasaan

 

Setelah mengetahui apa yang terjadi di kampung Eputobi selama beberapa tahun terakhir, seorang rekan dari luar Lewoingu menyarankan perlunya doa bagi para pelaku pembunuhan terhadap Yoakim Gresituli Ata Maran. Soalnya, mereka itu berada dalam jalan yang gelap. Sehingga mereka pun tidak tahu lagi mana yang baik dan mana yang jahat. Mereka mengira bahwa pembunuhan yang mereka lakukan itu merupakan suatu perbuatan yang baik. Mereka juga mengira bahwa tidak mengakui perbuatan jahat yang mereka lakukan itu juga perbuatan yang baik.

Di kampung Eputobi, orang-orang yang terlibat dalam peristiwa pembunuhan tersebut sering menghadiri ibadat sabda atau perayaan misa. Pada waktu komuni, mereka pun maju untuk menerima komuni. Dalam momen semacam itu mereka menunjukkan perilaku yang sangat alim. Perilaku semacam itu sering mengundang tanda tanya, “Apakah mereka itu sudah bertobat?” “Apakah mereka itu sudah menerima sakramen tobat?”

Secara bercanda, ada saja warga “jabar” di kampung Eputobi berkomentar, “Kalian mau mengaku dosa atau tidak mengaku dosa, bagi kami, dosa kalian sudah jelas.” Dosa mereka ialah melakukan pembunuhan, lalu tidak mau mengakui di hadapan publik perbuatan jahat yang mereka lakukan di Blou itu. Bahkan secara mati-matian mereka berusaha bertahan dalam ketidakjujuran. Selama beberapa tahun terakhir, mereka berhasil membangun suatu lingkaran keluarga besar yang layak disebut sebagai keluarga kriminal. Tugas utama dari masing-masing anggota keluarga tersebut adalah menjaga agar kasus kejahatan yang mereka lakukan di Blou pada Senin malam 30 Juli 2007 itu tidak terungkap. Untuk itu mereka berusaha memutarbalikkan fakta-fakta yang berkaitan dengan kejahatan tersebut. Padahal fakta-fakta tentang perbuatan jahat mereka itu sudah lama terungkap. (Apa yang disuarakan oleh salah seorang keponakan dari Mikhael Torangama Kelen di buku tamu www.eputobi.net merupakan bagian dari upaya tersebut. Tampak jelas bahwa anak muda itu sudah berhasil disesatkan oleh senior-seniornya. Maka dia pun berusaha menyesatkan pengunjung situs tersebut). 

Persoalan yang menyebabkan belum diajukannya para pelaku pembunuhan tersebut ke pengadilan adalah ketidakseriusan oknum-oknum aparat penegak hukum setempat untuk menegakkan kebenaran dan keadilan. Sebagaimana selama ini terjadi di negeri ini, di situ pun kebenaran dan keadilan dapat dipermainkan sesuka hati mereka. Aktor utama di balik upaya penyuapan terhadap penyidik masih berada di sana. Di kalangan penjahat Eputobi, dia menjadi salah satu tokoh idola. Tokoh utama dari kubu penjahat, yang berusaha bekerja sama dengan oknum-oknum polisi nakal untuk merekayasa kasus pembunuhan tersebut menjadi kasus kecelakaan lalu lintas pun masih berada di sana. Di antara oknum-oknum polisi nakal yang kooperatif dengan para penjahat yang bersangkutan untuk mengkriminalisasi keluarga korban pun ada yang masih bercokol di sana. Pernah mereka memberikan alasan untuk membenarkan diri. Selama ini mereka berperan sebagai bemper ketidakjujuran para penjahat Eputobi itu.

Apa dampak dari ketidakjujuran yang terus mereka pertahankan itu? Apakah ketidakjujuran mereka itu akan berdampak pada kebinasaan yang akan menimpa mereka? Pertanyaan  semacam ini tidak mudah dijawab. Di dalam kenyataan, tidak ada hukum yang menjelaskan kepada kita tentang kaitan tak terelakkan antara ketidakjujuran dan kebinasaan. Ada saja orang yang tidak jujur, tetapi tidak mengalami kebinasaan. Ada pula orang jujur yang ditimpa musibah yang mengerikan. Tetapi ada pula orang yang tidak jujur yang ditimpa malapetaka yang membinasakan hidupnya secara mengerikan.

Menyaksikan kebiadaban besar yang dilakukan oleh Mikhael Torangama Kelen dan anggota-anggota komplotannya, ada saja orang yang tergoda untuk berharap agar orang-orang jahat itu ditimpa kebinasaan besar agar yang lain-lain pada kapok lalu mau berterus terang. Melalui ritus adat tertentu, kebinasaan dimaksud dapat diprogramkan bagi mereka yang berbuat jahat tetapi tidak mau mengakui perbuatan jahat mereka. Dasar dari penyelenggaraan ritus adat tersebut adalah kebenaran. Ritus adat yang diselenggarakan untuk menentang kebenaran menjadi bumerang yang memangsa orang-orang dari pihak penyelenggara. Dan kiranya itu yang selama ini terjadi dengan kubu para penjahat Eputobi itu. Gara-gara menyumpahi orang-orang yang tidak bersalah, orang-orang mereka sendiri jatuh bertumbangan. Itulah formula yang berlaku dalam kehidupan masyarakat setempat.

Bagi kami, ritus adat yang diprogramkan untuk membinasakan para penjahat yang tidak jujur itu tak perlu diselenggarakan, karena telah muncul tanda-tanda alam bahwa akan terjadi kebinasaan bagi orang-orang yang menumpahkan darah orang yang tidak bersalah itu. Tanpa ritus adat termaksud pun, para penjahat yang membunuh Yoakim Gresituli Ata Maran itu dapat mengalami kebinasaan yang mengerikan. Sejarah pun sudah berulang kali menyuguhkan ceritera-ceritera tentang nasib tragis yang dialami oleh penjahat-penjahat tertentu yang tidak mau mengakui secara terus terang perbuatan jahat yang mereka lakukan. Sekian tahun lalu, Us Mukin yang pada waktu itu menjadi kepala desa Wolo dibunuh ketika dia dan seorang rekannya sedang mengendarai sepeda motor. Rekan seperjalanan Us Mukin menderita luka parah. Pelaku pembunuhan tersebut tidak pernah mengakui perbuatan jahatnya. Polisi setempat pun tidak mengusut kasus pembunuhan tersebut, sehingga tidak terungkap ke publik siapa pembunuh Us Mukin. Tetapi arwah Us Mukin sendiri menuturkan siapa orang yang membunuhnya dan siapa pula orang yang berada di balik peristiwa pembunuhan tersebut. Di kemudian hari, orang-orang yang membunuhnya mengalami kematian secara mengerikan. Akhir hidup dalam keadaan mengenaskan pun dialami oleh Bei Kelen dan Keba Kelen (bapak-bapak kecil dari Mikhael Torangama Kelen) yang membunuh dua anggota suku Lewolein di Riang Duli empat puluh tahun lalu. Pernah darah mereka nyaris ditumpah-ruahkan secara sadis. Tetapi karena berlindung di rumah Ata Maran, maka nyawa mereka dapat diselamatkan.

Kebiadaban yang diperlihatkan oleh Mikhael Torangama Kelen dan anggota-anggota komplotannya di Blou pada Senin malam 30 Juli 2007 sungguh besar. Dan sungguh besar pula kebiadaban yang diperlihatkan oleh mereka yang membela kejahatan tersebut. Karena merasa muak dengan segala macam kebiadaban tersebut, ada saja orang yang berharap agar di antara pelaku kejahatan tersebut ada yang ditimpa kebinasaan mengerikan, biar yang lain-lain mau berterus terang. Tetapi adalah lebih baik kalau kita berharap agar jangan satu pun dari mereka yang melakukan kejahatan itu diambil dari kehidupan ini sebelum mereka mempertanggung jawabkan perbuatan jahat mereka di hadapan hukum. Lain ceritera, jika hukum di negara ini diperlemah sedemikian rupa oleh oknum-oknum nakal, sehingga pada akhirnya gagal menjadi sarana yang efektif untuk menegakkan kebenaran dan keadilan berkenaan dengan terjadinya peristiwa pembunuhan tersebut. ***

Minggu, 05 September 2010

Siapa Lagi yang Akan Kalian Bunuh?

 

Pertanyaan tersebut diberondongkan langsung oleh seorang tokoh terkemuka kepada Mikhael Torangama Kelen dan beberapa pendukungnya sembilan hari lalu di kampung Eputobi. Pada malam itu, nama si kepala komplotan pembunuh berdarah dingin itu disebut dengan sangat jelas di muka yang bersangkutan sendiri. Itu merupakan suatu tantangan real bagi dia yang memimpin aksi pembunuhan terhadap Yoakim Gresituli Ata Maran di Blou pada Senin malam 30 Juli 2007.

Meskipun diberondong dengan pertanyaan semacam itu, Mikhael Torangama Kelen dan orang-orang lain di sekitarnya hanya duduk merunduk tanpa suara. Sikap diam semacam itu bukan menunjukkan kelebihan, melainkan ketakberdayaan dalam menghadapi fakta yang belakangan ini berani disuarakan secara lebih terbuka. Stamina mental para pelaku pembunuhan tersebut tampak merosot tajam setelah berbagai upaya mereka untuk menutup perbuatan jahat mereka mengalami kegagalan. Upaya mereka menggunakan ilmu setan untuk menggoalkan maksud mereka untuk menghindari diri dari tanggung jawab hukum pun mengalami kegagalan. Mungkin uang yang masih dapat mereka andalkan. Tetapi cara itu pun hanya berhasil menunda proses hukum saja. Metode semacam itu tidak akan berhasil menggagalkan penindakan hukum terhadap para pelaku pembunuhan tersebut.

Penundaan proses hukum seperti terjadi selama ini tidak menguntungkan para tersangka dan rekan-rekan mereka yang juga terlibat dalam peristiwa pembunuhan tersebut. Dengan terus mempertahankan ketidakjujuran mereka akan menuai dampak buruk yang lebih mengerikan ketimbang yang dapat mereka bayangkan selama ini. Karena, seperti apa pun perkembangan penanganan perkara kejahatan itu ke depan, kejahatan yang mereka lakukan secara berjamaah itu tidak akan dibiarkan untuk tidak diberantas. 

Bahwa hingga kini mereka masih bebas berkeliaran di masyarakat, itu karena proses hukum memang dapat dibengkak-bengkokkan sesuka hati oknum-oknum penegak hukum tertentu. Sudah menjadi rahasia umum di negeri ini macam udang di balik upaya-upaya yang ditempuh oleh oknum-oknum penegak hukum tertentu untuk menutupi atau paling kurang untuk menghambat kelancaran proses hukum atas suatu perkara kejahatan. Macam udang di balik terkatung-katungnya proses hukum atas kasus pembunuhan Yoakim Gresituli Ata Maran pun jelas. Udang yang satu itulah yang membuat Mikhael Torangama Kelen dan anggota-anggota komplotannya merasa “nyaman” dengan kebohongan-kebohongan mereka. Mereka mengira dengan udang yang satu itu mereka berhasil menggagalkan seluruh proses hukum atas kejahatan yang mereka perbuat.

Tidak. Meskipun sejumlah oknum aparatur penegak hukum, yang nakal, berusaha mengganjal proses hukum atas perkara kejahatan tersebut, masih terbuka ruang yang luas bagi penegakan hukum. Apalagi musim kini mulai berganti, terutama ketika di sana sini muncul keberanian yang lebih signifikan di kalangan tertentu untuk ikut menegakkan kebenaran dan keadilan di tengah kehidupan masyarakat Lewoingu. Tekad untuk membela dan menutup kejahatan tersebut hanya terdapat dalam diri para pelaku dan antek-antek mereka, juga dalam diri oknum-oknum penegak hukum yang nakal. Di luar kelompok tersebut terdapat orang-orang yang takut menegakkan kebenaran dan keadilan karena alasan-alasan tertentu.

Tetapi selama penanganan kasus pembunuhan tersebut terkatung-katung, perilaku dan gerak gerik para penjahat Eputobi itu perlu terus diwaspadai. Mengapa? Sebelum pertanyaan tersebut diberondongkan secara jelas dan tegas ke muka Mikhael Torangama Kelen beberapa waktu lalu, tiga orang dari kalangan penjahat itu sendiri mengatakan secara terang dalam kesempatan yang berbeda bahwa “Satu sudah meninggal, empat orang lagi akan menyusul.” Nama keempat orang yang dikatakan akan menyusul itu pun disebut dengan jelas, yaitu Yos Kehuler, Sis Tukan, Dere Hayon, dan Pius Koten. Belum terhitung ancaman-ancaman yang pernah ditujukan terhadap keluarga korban.

Fakta-fakta di lapangan membenarkan adanya rencana jahat tersebut. Maka pertanyaan tertera di atas menjadi penting untuk diperhatikan, termasuk oleh para pegiat yang berusaha mempromosikan kesalehan-kesalehan palsu bagi masyarakat Eputobi. ***

Ceritera tentang Anjing yang Memakai Sandal

 

Salah satu kabar terbaru dari kampung Eputobi menyebutkan bahwa belakangan ini ditemukan seekor anjing yang memakai sandal alias sendal. Anjing yang memakai sendal itu beroperasi pada malam hari. Ceritera itu sempat membuat saya bertanya-tanya, “Kok ada anjing yang memakai sendal?” Tetapi rasa heran saya segera sirna setelah saya ingat bahwa sejak beberapa tahun lalu di kampung Eputobi sering berpatroli di malam hari seekor anjing hitam. Para pemerhati fenomena tersebut pernah berceritera kepada saya bahwa pernah ditemukan dua anjing hitam. Tetapi yang sering muncul adalah satu saja. Sejak tahun lalu, dalam beberapa kesempatan ditemukan dua anjing hitam.

Tanda kehadiran si anjing hitam adalah lolongan anjing-anjing lain yang saling bersahut-sahutan. Begitu si anjing hitam muncul, anjing-anjing piaraan yang ada di sekitarnya langsung melolong memecah kesunyian malam di kampung Eputobi. Dan ke mana si anjing hitam melangkah ke situ anjing-anjing lain pun mengarah. Kegiatan mereka sering diakhiri dengan gonggong mengonggong.

Saksi-saksi mata menuturkan bahwa sosok si anjing hitam lebih tinggi dan lebih besar dibandingkan dengan anjing-anjing piaraan setempat. Tonkrongannya berbeda dari tonkrongan anjing-anjing piaraan. Kalau anjing-anjing piaraan jelas pemiliknya, si anjing hitam tak jelas pemiliknya. Yang jelas si anjing hitam hanya muncul di malam hari. Sosoknya tak pernah tampak dalam terang sinar matahari. Pada malam hari si anjing hitam meronda sesuka hatinya. Rumah-rumah tertentu pernah dikunjunginya.

Setelah barang-barang bukti pembunuhan terhadap Yoakim Gresituli Ata Maran ditemukan dan disimpan untuk sementara di sebuah rumah di Eputobi, pada suatu malam si anjing hitam bertandang ke rumah tersebut. Dia sempat menampakkan sosoknya di pintu rumah itu. Si anjing hitam pun pernah bertamu ke rumah seseorang yang anaknya sedang menderita sakit. Pada suatu malam, di tahun 2008, si anjing hitam kepergok berada di sebuah rumah. Seorang anak gadis di rumah itu sempat nyaris bersenggolan dengan si anjing hitam. Kejadian itu membuat si anjing hitam tiba-tiba lenyap. Seketika itu juga muncul di hadapan anak gadis itu sosok seseorang yang terkenal sebagai salah seorang pengguna ilmu hitam di kampung Eputobi. Pada tahun 2004, orang itu pernah mengatakan kepada saya bahwa dia sudah bersih, dia tidak lagi menggunakan ilmu hitam. Pada waktu itu tampangnya kelihatan bersih dan segar. Tetapi setelah itu dia rupanya kembali tergoda untuk mengandalkan kekuatan setan. Belakangan ini tampangnya kelihatan kumal seperti orang yang jarang mandi. Tubuhnya menjadi kurus kering, dan tidak lagi menampakkan kesegaran.

Para pengamat fenomena penggunaan ilmu setan di kampung Eputobi mengetahui bahwa si pengguna ilmu hitam yang satu itu memiliki kemampuan untuk berubah rupa. Dia bisa berubah menjadi kucing atau anjing. Seorang mantan praktisi ilmu hitam pernah menjelaskan kepada saya bahwa kalau dia bisa berubah menjadi sosok binatang tertentu, itu berarti dia memiliki ilmu yang cukup tinggi. Karena, untuk bisa berubah rupa diperlukan energi yang besar. Ketika masih aktif sebagai praktisi ilmu hitam, narasumber saya itu berada pada 70 (tujuh puluh). Level tertinggi yang boleh ditempati oleh seorang praktisi ilmu hitam adalah 99 (sembilan puluh sembilan). Jika ada yang nekad mencapai level 100 (seratus), maka dia menjadi gila.

Kemampuan berubah rupa itu rupanya disosialisasikan juga kepada pengguna ilmu hitam lain di kampung tersebut. Ya, sebagai sesama pengguna ilmu setan, mereka saling belajar mengasah dan meningkatkan kemampuan. Maka kemampuan itu pun dimiliki pula oleh rekan satu grup dari si pengguna ilmu hitam yang bersangkutan. Mereka berdua bisa berubah rupa menjadi dua anjing hitam. Selama beberapa tahun terakhir, kedua pengguna ilmu setan itu bersama rekan-rekan mereka menjalin kerja sama yang erat untuk melawan setiap upaya untuk mengungkap hingga tuntas kasus pembunuhan yang dilakukan oleh Mikhael Torangama Kelen dan anggota-anggota komplotannya.

Ketika Mikhael Torangama Kelen dan tiga anggota komplotannya dikurung di Polres Flores Timur, pada suatu malam si anjing hitam pernah memunculkan diri di Mapolres Flores Timur. Kehadirannya disaksikan oleh anggota-anggota polisi yang sedang bertugas pada malam itu. Kehadirannya pun langsung mengundang lolongan dari anjing-anjing piaraan yang ada di sekitarnya. Seorang anggota polisi berceritera bahwa sosok si anjing hitam berbeda dengan sosok anjing-anjing piaraan yang selama ini dikenalnya. Lalu ketika para penjahat Eputobi sibuk memperjuangkan SP3, muncul pula beberapa kali si anjing hitam dan rekannya di sebuah rumah di Larantuka. Seperti biasa, kehadirannya langsung mengundang lolongan dari anjing-anjing piaraan di sekitarnya.

Belakangan ini si anjing hitam tampil dengan gaya baru. Dia memakai sandal. Dengan memakai sandal, si pengguna ilmu setan yang bersangkutan mungkin ingin memperlihatkan kehebatannya kepada lawan-lawannya. Tetapi bagi para pengamat setempat, fenomena tersebut justru memperjelas sosok sesungguhnya di balik si anjing hitam. Dia adalah si pengguna ilmu setan yang sudah menyusahkan banyak orang di sana. Fenomena itu pun menunjukkan bahwa para pengguna ilmu setan di sana semakin leluasa beroperasi dan berkreasi. Mereka sering bergerilia di malam hari untuk mengganggu atau mencelakakan orang-orang yang menjadi target operasi mereka.

Hingga kini mereka juga masih coba bergerilia untuk menggunakan ilmu setan untuk menutupi perbuatan biadab yang dilakukan oleh Mikhael Torangama Kelen dan anggota-anggota komplotannya di Blou. Paling kurang satu orang dari empat tersangka kasus Blou terkenal sebagai pengguna ilmu setan. Dulu dia berguru pada seorang pemakai ilmu hitam yang sudah cukup lama menjadi almarhum. Bersama seorang rekannya seperguruan, dia pernah mengikuti program latihan terbang di malam hari. Dalam latihan terbang itu mereka tersangkut pada cabang sebatang pohon asam. Maklum, waktu itu mereka baru pemula.

Apa pun upaya mereka untuk menutupi kasus Blou, mereka tidak berhasil. Kejahatan yang ingin mereka tutup-tutupi itu sudah terbuka lebar sejak awal. Karena terlalu banyak mengerahkan energi untuk mencelakakan orang dan untuk menutupi kejahatan tersebut, mereka akhirnya mengalami keletihan fisik dan mental. Maka tak mengherankan bila di antara mereka pun ada yang belakangan ini mulai menunjukkan perilaku-perilaku aneh. ***

Sabtu, 04 September 2010

Selamat Jalan Mamung

 

Kabar tentang wafatnya Mamung Kornelis K. Kelen saya terima siang ini dari kampung Eputobi. Kabar duka itu membuat saya sempat menundukkan kepala seraya merenungkan arti hidup manusia di dunia ini. Dan di hadapan saya terbentang kembali hari-hari kami bersama di kampung Eputobi, di SMP Swadaya Tuakepa, lalu di Seminari San Dominggo Hokeng di Flores Timur tempo doloe. Sebagai saudara, Mamung Kornelis dan dua saudaranya serta seorang saudarinya adalah bagian dari keluarga besar kami. Dan rasa persaudaraan itu tetap hidup.

Sebagai saudara kami menggunakan kata “mamung” (saudara laki-laki) untuk saling menyapa. Kata itu menyatakan relasi kekeluargaan khas. Maka kata itu pun tak digunakan oleh sembarang orang. Di seluruh kawasan Lewoingu hanya sedikit orang yang saling menyapa dengan kata “mamung.” Di antara yang sedikit itu, almarhum termasuk yang sering menggunakannya.

Setelah tahun 1980, saya tak lagi bersua langsung dengan Mamung saya yang kini sudah jadi almarhum itu. Pada bulan Januari 1980, kami bertemu di Surabaya. Pada waktu itu, Mamung Kornelis tinggal di Madiun. Setelah mengetahui bahwa saya dan seorang saudara saya berada di Surabaya dalam perjalanan ke Jakarta, dia menyempatkan diri pergi ke Surabaya. Lalu kami diajaknya ke Madiun. Di Madiun kami menginap di rumah Pak Guru Sedu Kelen. Keesokan harinya saya kembali ke Surabaya untuk meneruskan perjalanan saya ke Jakarta.

Tiga puluh tahun setelah perjumpaan di Surabaya dan di Madiun itu, saya menerima kabar duka itu. Mamung saya itu sudah dipanggil Tuhan untuk meneruskan hidupnya di alam baka. Kepergiaannya membuat saya menelusuri kembali ceritera-ceritera masa lalu ketika kami sama-sama masih muda belia di Lewoingu dan sekitarnya. Dan saya teringat bahwa sejak dulu Mamung saya itu terkenal sebagai seseorang yang memiliki tekad kemauan yang kuat dalam usaha untuk meraih cita-citanya. Dia juga seorang humoris. Dia memiliki kecakapan dalam menjalin relasi pertemanan dengan sesamanya. Lalu dia juga terkenal sebagai salah seorang pemain sepak bola yang hebat.

Di antara orang Eputobi yang berada di perantauan, Mamung saya itu termasuk salah seorang yang memiliki pengetahuan yang cukup banyak tentang sejarah Lewoingu. Itulah landasan historis yang membuat dia menyikapi kejahatan yang terjadi di Eputobi dengan caranya sendiri. Meskipun dia pun sempat digoda untuk ikut bergabung dalam barisan orang-orang yang membela kejahatan yang terjadi di kampung Eputobi pada tahun 2007, dia tetap berusaha bergerak pada rel sejarah dan fakta-fakta yang dia peroleh dari sumber-sumber yang terpercaya. Dan dengan caranya sendiri dia berusaha membela kebenaran dan keadilan.

Kini dia sudah berjumpa dengan kebenaran dan keadilan yang selama ini dia ikut perjuangkan. Dengan pergi ke alam baka, dia mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi di Blou pada Senin malam 30 Juli 2007. Kini dia mengetahui persis siapa saja orang-orang yang beraksi pada malam itu di Blou, yang membuat salah seorang Mamungnya (Yoakim Gresituli Ata Maran) meninggalkan dunia ini. Di sana, di alam baka, mereka saling berjumpa sebagai saudara dari suatu keluarga.

Selamat Jalan Mamung. Sebagai orang beriman, kami percaya, bahwa Belas Kasih Bapa Kita membuka Pintu RumahNya bagimu. Kami percaya, di RumahNya Itulah Mamung Tinggal untuk selama-lamanya. ***