Minggu, 05 Juni 2011

Menunggu kejujuran MTK dan anggota-anggota komplotannya

Hebat betul upaya Mikhael Torangama Kelen (MTK) dan anggota-anggota komplotannya untuk mempertahankan dusta. Meskipun terang benderang memimpin aksi pembunuhan terhadap Yoakim Gresituli Ata Maran, di Blou, pada Senin malam, 30 Juli 2007, si MTK terus menyangkali perbuatan sangat biadabnya itu. Dia pula yang mengancing mulut para anggota-anggota komplotannya agar pengakuan tak meluncur dari mereka. Bersama-sama mereka coba mempertahankan dusta, hingga kini. Tapi sampai kapan dusta semacam itu dapat mereka pertahankan?

Tak ada ceritera tentang pendusta dapat mempertahankan dustanya hingga selamanya, apalagi urusannya menyangkut darah dan nyawa orang yang tak bersalah. Menumpahkan darah dan menghilangkan nyawa orang yang tak bersalah itu perbuatan sangat keji. Perbuatan semacam itu tak akan menenteramkan hati para pelakunya. Apalagi saksi sejati tak pernah lupa untuk mengingatkan mereka tentang kebiadaban yang mereka lakukan di Blou pada malam hari itu sekaligus menuntut mereka untuk mempertanggungjawabkannya. Semakin mereka berusaha menutup-nutupinya, semakin tidak tenang hati mereka. Bukan hanya si MTK dan anggota-anggota komplotannya yang beraksi langsung di Blou yang terus menerus dihantui rasa tidak tenang, orang semacam Donatus Doni Kumanireng (DDK) pun telah lama didera rasa tidak tenang. Padahal sosok si DDK tidak ditemukan di tempat kejadian perkara pada malam kejadian perkara. Pada malam kejadian perkara itu dia berada di Kupang. Tetapi karena berandil besar di belakang layar panggung kriminal di Blou, maka hatinya terus didera rasa gelisah. Karena punya andil bagi keberhasilan bagi proyek pembunuhan di Blou itu, maka si DDK pun sibuk berkasak-kusuk untuk menggagalkan proses hukum bagi si MTK dan kawan-kawan. Soalnya jelas. Jika proses hukum berjalan dengan mantap, maka dirinya pun terjerat. Untuk menghindari diri dari jerat hukum, segala cara coba ditempuhnya.

Cara si MTK dan DDK serta anggota-anggota komplotan mereka menutup-nutupi pembunuhan terhadap Yoakim Gresituli Ata Maran sudah lama menjadi bahan tertawaan di kalangan masyarakat beradab di kampung Eputobi dan di seluruh kawasan Lewoingu. Di kalangan masyarakat beradab di sana, sejak lama tumbuh keyakinan bahwa cepat atau lambat para pelaku kejahatan tersebut akan dihukum. Semakin nekad mereka menyangkali perbuatan jahat yang mereka lakukan di Blou, semakin besar malapetaka yang akan mereka tanggung. Malapetaka lebih besar tak akan menimpa mereka, jika mereka secara jujur mengakui perbuatan jahat yang mereka lakukan di Blou pada Senin malam 30 Juli 2007. Pengakuan secara jujur itu harus dibarengi dengan penyerahan diri mereka ke pihak berwajib.

Hal berikut ini pun perlu diperhatikan. Dengan dijebloskannya si ABK ke bui karena kasus korupsi, dan dengan mulai berhembusnya angin perubahan politik di bumi Flores Timur, kursi kepala desa Lewoingu yang selama ini diduduki oleh si MTK, kepala komplotan pembunuh berdarah dingin itu telah kehilangan backing politik. Ingatlah baik-baik bahwa selain melakukan pembunuhan, si MTK juga melakukan korupsi. Kedua perkara pidana itu akan menggiring dia ke bui atau ke tempat hukuman yang mengerikan. Baginya akan berlaku, “Kakak keluar, adik masuk.” Untuk sementara, biar kakaknya saja dulu yang masuk dan menjadi penghuni penjara. Pada waktunya nanti, si adik akan digiring ke sana.***

Jumat, 20 Mei 2011

Di mana lilin demi kematian itu dipasang?

Beberapa hari sebelum Paskah 2011, salah seorang berasal-usul kampung Eputobi mengatakan kepada seorang warga kampung yang sama bahwa sebelum Yoakim Gresituli Ata Maran meninggal, dirinya sudah tahu bahwa Yoakim Gresituli Ata Maran akan meninggal. “Dari mana engkau bisa mengetahui bahwa Yoakim Gresituli Ata Maran akan meninggal?” Tanya orang yang mendengar pernyataannya. Apa jawabannya?

Dia menjelaskan, bahwa “Sebelum Yoakim Gresituli Ata Maran meninggal, saya bersama Mikhael Torangama Kelen dan Lambertus Lagawuyo Kumanireng pergi ke kampung lama (Lewo Okineng). Di sana kami memasang lilin di makam Gresituli. Di situ kami sembahyang. Setelah kembali dari kampung lama, kami memperoleh petunjuk bahwa Yoakim Gresituli Ata Maran akan meninggal.”

Setelah berceritera demikian, dia memberikan isyarat untuk tidak menyampaikan apa yang baru saja diceriterakannya itu kepada orang lain. Isyarat tersebut mengindikasikan bahwa apa yang mereka lakukan di kampung lama itu merupakan suatu rahasia yang perlu dijaga kerahasiaannya. Padahal apa yang dianggapnya rahasia itu sudah menjadi rahasia umum sejak hari jenazah Yoakim Gresituli Ata Maran ditemukan di Blou. Yang perlu diperhatikan ialah bahwa dia sendiri pada dasarnya akhirnya mengungkapkan tentang keterlibatannya dalam perencanaan pembunuhan terhadap Yoakim Gresituli Ata Maran.

Yang perlu juga diperhatikan ialah bahwa Mikhael Torangama Kelen dan Lambertus Lagawuyo Kumanireng adalah dua orang dari sekian banyak praktisi black magic yang selama ini beroperasi di kampung Eputobi. Mereka termasuk kalangan pengguna ilmu hitam yang berbasiskan kekuatan roh jahat. Salah seorang andalan mereka pernah mengaku diri sebagai orang merah. Ya, seorang pengguna ilmu hitam biasa disebut juga orang merah. Makin tinggi level ilmu hitamnya, makin merah dia. Orang yang mengaku diri sebagai orang merah itu pernah mengatakan kepada salah seorang kakak dari korban pembunuhan di Blou begini, “Adikmu sudah, engkau menunggu giliran.”

Karena dimotori oleh sejumlah praktisi black magic, maka dalam skenario mereka, mereka pun berencana untuk menghabisi Yoakim Gresituli Ata Maran dengan menggunakan black magic. Selain itu mereka juga menyiapkan rencana  penggunaan kekuatan fisik. Kedua alternatif itu diusahakan berjalan paralel. Dalam rangka penggunaan black magic, Mikhael Torangama Kelen dan Lambertus Lagawuyo Kumanireng serta beberapa anggota komplotan mereka sering “berziarah” ke kampung lama. Dari “ziarah” dengan niat kriminal itu, mereka berharap bisa menghabisi Yoakim Gresituli Ata Maran tanpa perlu menggunakan kekuatan fisik. Delapan hari sebelum tanggal 30 Juli 2007, mereka “berziarah” ke kampung lama untuk memastikan tanggal kematian Yoakim Gresituli Ata Maran. Di sana mereka kembali memasang lilin di makam Gresituli, bapak pendiri Lewoingu. Selain itu mereka juga menodai Ling Pati dengan niat jahat mereka itu. Dalam ziarah itu mereka memastikan bahwa pada hari Selasa, 24 Juli 2007, Yoakim Gresituli Ata Maran akan meninggal.

Setelah kembali dari “ziarah” dengan niat kriminal itu, mereka menunggu datangnya hari Selasa, 24 Juli 2007. Hari Selasa yang ditunggu akhirnya tiba. Tetapi Yoakim Gresituli Ata Maran tak mati pada hari itu. Pada hari itu dia tampil segar bugar. Kenyataan ini membuat mereka merasa heran.  Mereka lalu memutuskan untuk menghabisi dia dengan metode kedua, yaitu dengan menggunakan kekuatan fisik, yang juga telah lama mereka persiapkan. Karena tak ada satu pun dari mereka yang berani berhadapan sendirian dengan Yoakim Gresituli Ata Maran, mereka lalu memutuskan untuk membunuhnya secara berjamaah, tidak di kampung Eputobi, tetapi di luar kampung Eputobi, dan waktunya bukan siang, tapi malam hari. Maka Blou pun dipilih dan waktunya adalah Senin malam, 30 Juli 2007.

Sebagai tahap persiapan akhir, pada tanggal 29 Juli 2007, mereka kembali “berziarah” ke kampung lama. Kali ini mereka tak lagi mengharapkan kekuatan black magic dari kampung lama. Soalnya, black magic tak dapat diandalkan. Yang mereka lakukan di sana adalah makan bersama iblis besar yang selama ini diyakini bertahta di kampung lama. Acara ini mereka lakukan sekedar untuk memotivasi diri mereka untuk berani melakukan pembunuhan terhadap Yoakim Gresituli Atamaran pada hari Senin 30 Juli 2007. Pembunuhan itu telah direncanakan dalam serangkaian pertemuan sebelum tanggal 30 Juli 2007. Tetapi pelaksanaannya tertunda-tunda karena mereka sempat berusaha mengandalkan black magic.

Rencana pembunuhan itu diketahui oleh dia yang pernah bersama Mikhael Torangama Kelen dan Lambertus Lagawuyo Kumanireng memasang lilin di makam Gresituli di kampung lama. Apakah dia juga ikut “berziarah” ke kampung lama pada hari Minggu tanggal 29 Juli 2007? Hingga kini, saya belum memperoleh informasi yang jelas tentang itu. Yang jelas dia itu tidak tinggal di kampung Eputobi. Jika ada hari libur dan jika ada kesempatan, baru dia muncul di kampung Eputobi. Pada hari Rabu dalam Pekan Suci 2011, dia berada di kampung Eputobi. Selama ini, dia tampil sebagai salah satu pendukung setia Mikhael Torangama Kelen. Ketika pelantikan Mikhael Torangama Kelen sebagai kepala desa Lewoingu tertunda-tunda, dia ikut berkasak-kusuk, termasuk ke kantor Bupati Flores Timur, demi pelantikan jagoannya itu. Dalam rangka menggalang dukungan bagi pelantikan Mikhael Torangama Kelen, dia pernah mengundang berbagai pihak di Eputobi untuk menghadiri suatu pertemuan. Tetapi pertemuan yang dirancangnya gagal dilaksanakan. 

Pada bulan April 2011, dia bertamu ke eputobi.net. Di situ, dia menggoreskan catatan-catatan baik atas namanya sendiri maupun atas nama orang lain. Ya, jika demi kematian Yoakim Gresituli Ata Maran, dia ikut memasang lilin di makam Gresituli, demi ambisi pribadinya, dia mencatut nama orang lain. ***

Minggu, 01 Mei 2011

Catatan untuk beberapa isi buku tamu eputobi.net

Sebuah info yang disampaikan oleh seorang warga kampung Eputobi ke telepon selulerku membuat aku bertandang ke buku tamu eputobi.net sore ini. Ya, sudah lebih dari setengah tahun aku tidak berkunjung ke eputobi.net yang bermarkas di Jerman itu. Karena itu, sebelum mengklik buku tamu di situs tersebut, saya sempat berharap akan menemukan adanya kata-kata yang lebih baik dari setiap tamu yang berkunjung ke sana. Tetapi ternyata, buku tamu eputobi.net pun masih saja berhiaskan pula dengan banyak kata yang membuat situs kampung Eputobi itu kian terpolusi. Polusi historis, misalnya, dipicu oleh pernyataan Chris Hayon yang menyinggung perasaan anggota-anggota tertentu dari suku Kebele’eng Kelen.

Tidak hanya itu. Situs kampung Eputobi itu dipolusikan pula oleh komentar-komentar dua orang tamu yang mengaku bernama Anis Kelen dan Paul Maran tentang isi KdK (Kabar dari Kampung) di sukuatamaran.weebly.com.  Komentar-komentar kedua orang ini mendapat tanggapan dari saudara Abdisa Eduard Kuswendo K. Menurut saya, tanggapan-tanggapan dari saudara Abdisa Eduard Kuswendo K. itu cukup representatif bagi orang-orang Eputobi yang mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi di kampung Eputobi.

Saya sendiri tidak mengenal siapa itu Anis Kelen dan siapa pula Paul Maran itu. Dari catatan di buku tamu eputobi.net pada 20 Februari 2011, saya hanya memperoleh informasi bahwa kedua orang itu mengaku bersaudara, bersahabat, dan tinggal bersama di Larantuka. Di situ dicatat pula bahwa mereka “memiliki pemikiran yang sama terhadap sikon  desa Eputobi yang merupakan asal usul” mereka. Karena tinggal di Larantuka, “maka hampir setiap saat” mereka “menengok kampung halaman” mereka.

Setahu saya, tidak ada anggota suku Ata Maran dari kampung Eputobi bernama Paul Maran. Lalu akan dicek, apakah dari kampung Eputobi pun ada orang bernama Anis Kelen selain Anis Kelen, kakak dari Mikhael Torangama Kelen itu. Lalu coba perhatikan penggunaan kata “desa Eputobi” dalam catatan yang dibuat Paul Maran pada tanggal tersebut di atas. Di Kecamatan Titehena tidak dikenal desa Eputobi. Yang dikenal adalah desa Lewoingu. 

Lantas, benarkah kedua orang itu hampir setiap saat menengok kampung halaman mereka itu? Kalau benar demikian, itu berarti hampir setiap saat hidup mereka, mereka berada di kampung Eputobi. Tetapi di kampung Eputobi tidak dikenal nama Paul Maran. Dan yang dikenal di Eputobi adalah Anis Kelen yang berprofesi sebagai guru SD. Dari Larantuka, saya memperoleh informasi bahwa di kota tersebut tidak ada anggota suku Ata Maran dari kampung Eputobi yang tinggal bersama dengan anggota suku Kelen dari kampung yang sama.

Siapakah Anis Kelen dan Paul Maran yang pernah beberapa kali bertamu ke eputobi.net itu?  Saya sendiri belum bisa menjawab pertanyaan ini. Mudah-mudahan pada suatu waktu nanti, saya bisa mengetahui siapa sesungguhnya yang menggunakan nama Anis Kelen dan Paul Maran itu. Untuk sementara, saya hanya bisa mengatakan bahwa orang yang menggunakan nama Anis Kelen dan Paul Maran itu berasal dari kelompok yang membela kejahatan berupa korupsi dan pembunuhan yang dilakukan oleh Mikhael Torangama Kelen dan anggota-anggota komplotannya. Orang-orang dari kelompok kriminal tersebut, yang bisa mengakses KdK menentang isi KdK. Karena isi KdK itu benar, maka mereka berusaha keras untuk menentangnya. Maklum, mereka adalah orang-orang yang takut akan kebenaran. Karena takut akan kebenaran, maka mereka pun bersama-sama berusaha menutup kejahatan yang terjadi di Blou.

Bagi mereka, keadaan di kampung Eputobi, desa Lewoingu baik-baik saja seakan-akan tidak terjadi masalah. Padahal di situ terjadi perpecahan sosial yang kian sukar untuk diperbaiki akibat terjadinya dua kasus kejahatan, yaitu kejahatan adat atau kejahatan kultural pada tahun 2006, dan kejahatan kemanusiaan yang terjadi pada tahun 2007. Praktek korupsi yang dilakukan Mikhael Torangama Kelen dan kroni-kroninya menimbulkan dampak destruktif sangat besar berupa pembunuhan terhadap Yoakim Gresituli Ata Maran, dengan segala dampak lanjutannya. Ancaman pembunuhan juga dialamatkan kepada beberapa rekan seperjuangannya. Kedua kasus kejahatan itu dilakukan oleh Mikhael Torangama Kelen dan anggota-anggota komplotannya. Tatanan adat bersama warisan para leluhur Lewoingu dirusak oleh Mikhael Torangama Kelen dan anggota-anggota komplotannya. Pengrusakan tersebut ditandai dengan pembentukan lembaga adat yang diketuai oleh Geroda Tukan. Lembaga adat yang diketuai oleh Geroda Tukan itu merupakan lembaga adat politik, yang dijadikan tandingan bagi lembaga adat warisan para leluhur Lewoingu.

Kiranya jelas bahwa orang-orang yang membela kejahatan itu semakin tak berani tampil secara terbuka dengan menggunakan identitas yang jelas. Jelas bahwa Paul Maran itu nama samaran. Dan bukan tidak mungkin Anis Kelen itu pun nama samaran. Dengan menggunakan nama Paul Maran, orang yang bersangkutan berusaha menimbulkan kesan bahwa ada pula anggota suku Ata Maran dari Eputobi yang menentang perjuangan RRM bersama saudara-saudarinya serta para simpatisannya untuk menegakkan kebenaran dan keadilan. Tapi siapa yang mau terkecoh oleh permainan tidak bermutu semacam itu? Bagiku, cara semacam itu nggak ngaruh. Kami berada pada posisi pantang mundur untuk melawan kejahatan yang dilakukan oleh Mikhael Torangama Kelen dan anggota-anggota komplotannya.

Hanya karena memprioritaskan penyelesaiannya secara hukum, maka upaya pemberantasan kejahatan tersebut berjalan secara mengambang. Tetapi itu tidak berarti bahwa kejahatan tersebut tak bisa diberantas.  Pada dasarnya, kejahatan itu mudah diberantas. ***

Rabu, 20 April 2011

Kisah Sengsara di Blou, Flores Timur

Inilah sengsara Yoakim Gresituli Ata Maran, orang Eputobi, Lewoingu, Flores Timur.

Pada hari itu, Senin 30 Juli 2007, Yoakim Gresituli Ata Maran bersama isterinya pergi ke Lato, ibukota Kecamatan Titehena di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, Indonesia, untuk menghadiri acara Nebo (Kenduri) untuk almarhumah Maria Ose Sogen. Mikhael Torangama Kelen dan anggota-anggota komplotannya yang telah berencana untuk membunuhnya pun tahu bahwa pada hari itu Yoakim dan isterinya pergi ke situ. Maka orang-orang yang sedang dikuasai oleh iblis itu pun pergi ke sana, sebelum Yoakim Gresituli Ata Maran dan isterinya tiba di rumah, tempat Nebo tersebut diselenggarakan.

Pada jam 13.00, Yoakim Gresituli Ata Maran dan isterinya tiba di tempat Nebo. Di situ banyak orang telah berkumpul untuk mengenang kepergian ibu Maria Ose Sogen. Kemudian datang pula ke situ orang dari mereka yang telah berencana membunuhnya. Sementara itu satu orang dari mereka yang berniat jahat itu berdiri di gang dekat rumah, tempat Nebo diselenggarakan. Dari gang itu dia bercekak pinggang seraya melayangkan pandangannya ke orang-orang yang sedang menghadiri acara tersebut. Waktu itu jam 14.00 siang.

Ketika malam mulai turun di Lato, Yoakim Gresituli Ata Maran dan isterinya pun pamit untuk pulang ke Eputobi. Dengan sepeda motor mereka meninggalkan Lato, ketika lampu-lampu listrik mulai menerangi ibukota Kecamatan Titehena itu. Setelah mengetahui bahwa Yoakim Gresituli Ata Maran dan isterinya meninggalkan Lato, orang-orang yang sedang dikuasai iblis itu pun bersiap untuk melaksanakan niat jahat yang telah mereka rancang. 

Hari masih terang ketika Mikhael Torangama Kelen meninggalkan kampung Eputobi. Dengan sepeda motor Supra Fit dia meluncur ke arah barat menuju tempat yang telah ditentukan itu. Kemudian meluncur pula ke sana Lambertus Lagawuyo Kumanireng dan rekan-rekannya. Hari sudah malam ketika Petrus Naya Koten berada di pertigaan Wairunu-Bokang untuk melaksanakan tugasnya. Dia bergerak ke arah Bokang. Di pinggir selatan kampung Bokang, dalam gelap, dia berdiri menanti kedatangan Yoakim Gresituli Ata Maran dari arah Lato. Tak jauh dari situ sedang menunggu pula beberapa orang kawannya. Mereka mengendarai dua sepeda motor.

Ketika orang yang dinanti-nantinya sendirian muncul di dekatnya, Petrus Naya Koten menyapanya dengan ramah, “Kelake……” Orang yang disapanya pun berhenti, lalu bertanya, “Mau pulangkah…..?” “Ya,” jawab Petrus Naya Koten. “Ayo…., naik,” ajak Yoakim Gresituli Ata Maran.

Petrus Naya Koten pun naik dan duduk di belakang Yoakim Gresituli Ata Maran. Berdua mereka bergerak ke arah Wairunu. Dengan kedua tangannya, Petrus Naya Koten memeluk erat Yoakim Gresituli Ata Maran seraya mengingatkan dia untuk tidak ngebut. Kepada Yoakim Gresituli Ata Maran dia berkata, “Saya takut kalau ngebut, kita berjalan perlahan-lahan saja.”

Setelah mengetahui bahwa Petrus Naya Koten dan Yoakim Gresituli Ata Maran sedang bergerak meninggalkan Bokang dan Wairunu, beberapa orang yang mengendarai dua sepeda motor itu tancap gas. Dengan cepat mereka menembus gelap malam ke arah Wairunu lalu selanjutnya ke arah Lewolaga. Di tempat yang telah mereka tentukan, yaitu di Blou, yang terletak di antara Wairunu dan Lewolaga, mereka berkoordinasi dengan Mikhael Torangama Kelen, Lambertus Lagawuyo Kumanireng serta kawan-kawan mereka lainnya untuk melakukan pencegatan terhadap Yoakim Gresituli Ata Maran, yang bersama salah seorang anggota komplotan mereka sedang bergerak ke tempat mereka menunggu.

Tak lama kemudian Yoakim Gresituli Ata Maran dan Petrus Naya Koten muncul di hadapan mereka. Seperti singa yang sedang lapar, orang-orang yang sedang dikuasai iblis itu pun menghadang dan langsung mengancam keselamatan Yoakim Gresituli Ata Maran. Aksi penghadangan itu membuat Yoakim Gresituli Ata Maran menghentikan sepeda motor yang dikendarainya. Pada saat itu, Petrus Naya Koten turun dari sepeda tersebut. Sesudah itu Yoakim Gresituli Ata Maran berusaha menembus hadangan dengan menabrak sepeda motor GL hitam yang oleh Yoka Kumanireng dipalang di depannya. Upaya tersebut membuat sepeda motor GL hitam dan pengendaranya sempat terpelanting ke aspal.

Mengetahui nyawanya terancam, Yoakim Gresituli Ata Maran berusaha memberikan perlawanan terhadap serangan keroyokan yang mulai dilancarkan oleh Mikhael Torangama Kelen dan anggota-anggota komplotannya. Mikhael Torangama Kelen adalah orang pertama yang melayangkan pukulan ke muka Yoakim Gresituli Ata Maran. Setelah menerima pukulan itu, Yoakim Gresituli Ata Maran bertanya, “Mengapa kamu memukul aku?” “Karena kamu keras kepala,” jawab orang yang memukulnya. Pukulan-pukulan lain pun mengenainya. Pada suatu momen, suatu pukulan keras dengan sepotong kayu keras yang dilancarkan oleh Yohakim Tolek Kumanireng membuat Yoakim Gresituli Ata Maran jatuh di pinggir jalan.

Tak lama kemudian sebuah mobil dari arah timur berhenti di tempat para penjahat itu sedang beraksi. Mata pengemudi mobil itu melihat seseorang sedang tergeletak di pinggir jalan di sebelah kanannya. Matanya juga melihat beberapa pria sedang berdiri di dekat orang yang sedang tergeletak itu. Salah seorang dari mereka tidak mengenakan helm (helmet). Dia ingat dengan baik wajah orang yang tidak mengenakan helm itu.

Dalam hatinya, pengemudi mobil itu mengira bahwa orang yang sedang tergeletak itu membutuhkan pertolongan. Maka dia pun turun dari mobilnya. Kemudian dia menghampiri mereka yang sedang berdiri di situ. Dia ingin tahu apa sesungguhnya yang terjadi dengan orang yang sedang tergeletak itu. Kepada mereka dia bertanya tentang apa yang terjadi. Kepadanya mereka menjelaskan bahwa mereka mau ke pesta, tetapi terjadi kecelakaan lalulintas. Setelah mendengar itu dia pun menawarkan bantuan. Dia mau membawa korban ke klinik atau rumah sakit terdekat agar korban bisa mendapat pertolongan. Tetapi mereka yang berada di situ menolak tawaran pertolongannya. Karena tawaran pertolongannya ditolak, pengemudi mobil itu pun meninggalkan tempat itu. Tetapi dalam hatinya dia bertanya, “Benarkah terjadi kecelakaan lalulintas? Kalau benar terjadi kecelakaan lalulintas, mengapa mereka itu tidak mau ditolong?”

Setelah mobil itu pergi, orang-orang yang sedang dikuasai iblis itu meneruskan aksi mereka. Untuk memuaskan hawa nafsu kriminal mereka, mereka menyeret orang yang sudah tak berdaya itu ke sebuah pondok yang terletak 70 meter di sebelah utara jalan raya. Di pondok itu terdapat sebuah bangku kayu cukup panjang. Di bangku kayu itu, Yoakim Gresituli Ata Maran didudukkan dengan muka menghadap ke timur. Pada bangku kayu itu, mereka mengikat tangan dan kakinya. Mereka membungkus kepalanya dengan kaos rombeng dan selembar kain. Dalam posisi semacam itu, mereka dengan leluasa menganiaya dan menyiksanya. Untuk mempermalukan dia, mereka pun menghantam alat kelaminnya.

Rasa sakit yang dideritanya membuat dia menangis seraya menyerukan pertolongan. Tetapi tak ada yang datang menolongnya. Sebagai jawaban atas tangis dan seruannya itu, salah seorang dari penjahat itu menyundut mulutnya dengan api rokok. Serangkaian pukulan dengan kayu akhirnya meremukkan tengkorak belakangnya. Matanya pun membiru legam akibat hantaman kayu. Dia akhirnya tak bisa bersuara apa-apa. Di bangku kayu itu dia akhirnya sekarat. Dari kepalanya yang remuk mengucur darah. Darahnya membasahi bangku kayu itu. Selembar kain dan kaos rombeng yang mereka pakai untuk membungkus kepalanya pun basah oleh darahnya.

Dalam keadaan sekarat dia dibawa ke pinggir jalan raya. Kemudian mereka meletakkannya di dalam parit, persis di mulut sebuah gorong-gorong. Di situ dia dibaringkan. Di situ dia menghembuskan nafasnya yang terakhir di dunia ini, pada subuh hari Selasa 31 Juli 2007.

Setelah melampiaskan hawa nafsu jahat mereka, orang-orang yang sedang dikuasai iblis itu berkumpul di pondok tempat Yoakim Gresituli Ata Maran dianiaya dan disiksa secara kejam. Sebelum meninggalkan ladang pembantaian itu, beberapa di antara mereka pergi ke pantai Waigema untuk membersihkan diri dengan air laut. Sebelum kembali ke Eputobi, Mikhael Torangama Kelen dan Lambertus Lagawuyo Kumanireng mengontak Kupang untuk melaporkan kepada si aktor intelektual tentang keberhasilan pelaksanaan proyek kriminal mereka di Blou.

Ketika tiba kembali di Eputobi pada malam itu, mereka disambut oleh gonggongan anjing. Beberapa di antara mereka berkumpul di rumah Mikhael Torangama Kelen. Di situ mereka begadang hingga tiba pagi hari Selasa 31 Juli 2007.

Pada pagi hari itu, Mikhael Torangama Kelen, Lambertus Lagawuyo Kumanireng dan beberapa anggota komplotan mereka pergi ke Blou. Yang mereka lakukan pagi itu ialah memposisikan sepeda motor yang dikendarai Yoakim Gresituli Ata Maran guna menimbulkan kesan bahwa kematiannya akibat kecelakaan lalu lintas. Dari mulut para penjahat itu, beredar kabar bohong, yaitu bahwa kematian Yoakim Gresituli Ata Maran itu karena kecelakaan lalulintas.

Pada hari Selasa siang 31 Juli 2007, jenazah Yoakim Gresituli Ata Maran tiba di rumah duka di Eputobi. Pada hari Rabu 1 Agustus 2007, jenazahnya dikuburkan di Riang Duli, Lewoingu.*** 

Senin, 18 April 2011

Ke mana raibnya alas kaki korban pembunuhan di Blou, Flores Timur?

Ketika ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa di dalam parit di pinggir ruas jalan di Blou Flores Timur, pada Selasa pagi 31 Juli 2007, Yoakim Gresituli Ata Maran mengenakan celana jean dan kaos berwarna biru. Arloji digital berwarna hitam tetap melingkar di lengan kirinya. Tetapi alas kakinya berupa sendal merek Omega berwarna hitam tidak menempel pada kedua telapak kakinya. Sendalnya tidak ditemukan di tempat dia menghembuskan nafasnya yang terakhir. Sendalnya juga tidak ditemukan di pondok, tempat dia dianiaya, disiksa secara sangat kejam oleh Mikhael Torangama Kelen dan anggota-anggota komplotannya. Hingga hari ini, alas kaki korban pembunuhan di Blou itu belum juga ditemukan.

Kemana raibnya sendal tersebut? Pada hari Selasa pagi 31 Juli 2007, sendal Omega berwarna hitam itu berada di Eputobi, tepatnya di rumah Lambertus Lagawuyo Kumanireng. Pagi itu sendal tersebut dipakai oleh Lambertus Lagawuyo Kumanireng. Setelah Yoakim Gresituli Ata Maran berhasil dilumpuhkan di sebuah pondok, sendalnya pun langsung dikuasai oleh Lambertus Lagawuyo Kumanireng. Orang ini yang membawanya ke Eputobi. Dan pada Selasa pagi, dia mengenakannya sebagai alas kakinya. Sebelumnya dia tidak pernah memiliki sendal berwarna hitam bermerek Omega.

Pada Selasa 31 Juli 2007 pagi hingga menjelang siang, Lambertus Lagawuyo Kumanireng dan Mikhael Torangama Kelen beberapa kali mondar-mandir Eputobi-Blou dalam rangka menghilangkan jejak kejahatan mereka. Ya, dua gembong penjahat Eputobi itu berusaha mengatur berbagai strategi untuk menutup kejahatan yang mereka lakukan pada Senin malam 30 Juli 2007. Ceritera Lambertus Lagawuyo Kumanireng bahwa pagi itu dia dan Mikhael Torangama Kelen pergi ke Maumere, itu merupakan bagian dari dongeng yang dengan sengaja mereka ciptakan untuk menghilangkan jejak. Pada suatu momen setelah kembali dari Blou, Lambertus Lagawuyo Kumanireng dan Mikhael Torangama Kelen berpisah jalan. Pada pagi hari Selasa itu, Lambertus Lagawuyo Kumanireng kepergok sedang berjalan dari arah pantai menuju kampung Lewolaga.

Termasuk dongeng adalah ceritera bahwa jenazah korban ditemukan pada pukul 09.00 pagi hari Selasa 31 Juli 2007 oleh Moses Hodung Werang. Mulanya kami percaya bahwa Moses Hodung Werang adalah penemu jenazah Yoakim Gresituli Ata Maran. Tetapi dari hasil investigasi lanjutan, kami mengetahui bahwa Moses Hodung Werang itu bukan orang yang menemukan jenazah korban. Dia tidak berada di Blou pada pukul 09:00 pagi hari Selasa itu. Dia adalah orang yang diperalat oleh para penjahat Eputobi itu untuk berlaku sebagai penemu jenazah korban pada pukul 09:00 pagi hari tersebut. Dari salah seorang saudaranya, kami mengetahui bahwa dia mendapat banyak tekanan. Ya, sejak pagi hari Selasa di Blou itu dia berada dalam ancaman dan tekanan.

Kembali ke soal sendal korban. Setelah orang-orang di Eputobi bicara tentang raibnya sendal dari kaki korban, Lambertus Lagawuyo Kumanireng takut kalau jejak keterlibatan aktifnya dalam pelaksanaan pembunuhan di Blou itu mudah terdeteksi. Maka dia pun membuang sendal itu. Itulah sebabnya sendal itu pun raib hingga kini.

Selanjutnya kita menunggu kejujuran dari pelaku pembunuhan tersebut. ***

Sabtu, 16 April 2011

Curhat dari kubu timur

Ketika mempersiapkan diri untuk menghadapi pekan suci, saya memperoleh sebuah kabar dari kampung Eputobi, Flores Timur. Tentang apa? Tentang perubahan sikap dari beberapa orang dari kubu timur, kubu para penjahat Eputobi. Jika selama ini mereka ikut berjuang untuk membela Mikhael Torangama Kelen dan Lambertus Lagawuyo Kumanireng dan perbuatan sangat keji yang mereka lakukan di Blou, belakangan ini mereka mulai menyadari bahwa mereka sebenarnya telah terjebak dalam skenario kriminal yang dirancang oleh kedua gembong penjahat Eputobi itu. Salah seorang dari mereka secara jelas menyebut nama kedua orang tersebut sebagai penyebab utama terjadinya kasus-kasus besar di Eputobi dalam beberapa tahun terakhir. Hal itu dia ungkapkan dalam suatu momen pertemuan dengan salah satu tokoh dari kubu barat di kampung Eputobi beberapa waktu lalu. Ceriteranya, kepada tokoh dari kubu barat itu dia curhat. Dalam kesempatan itu mereka berbicara tentang perkara pembunuhan terhadap Yoakim Gresituli Ata Maran dan kasus korupsi yang dilakukan oleh Mikhael Torangama Kelen.

Isi curhatnya menunjukkan bahwa perjuangan mereka dalam membela posisi Mikhael Torangama Kelen dilakukan secara membabi-buta. Selama ini pihaknya beranggapan bahwa Mikhael Torangama Kelen dan Lambertus Lagawuyo Kumanireng bukan pelaku korupsi, juga bukan pelaku pembunuhan terhadap Yoakim Gresituli Ata Maran. Pihaknya mengira bahwa tuduhan terhadap Mikhael Torangama Kelen dan Lambertus Lagawuyo Kumanireng itu palsu. Tetapi seiring berjalannya waktu, pihaknya pun mulai bisa menilai siapa yang benar, siapa yang salah.

Bukan baru kali itu, pernyataan semacam itu muncul dari kubu timur. Jauh sebelumnya, salah satu tokoh penting dari kubu tersebut secara jelas mengatakan bahwa “Yang mengacaukan kampung Eputobi itu bukan Yoakim Gresituli Ata Maran, tetapi Mikhael Torangama Kelen dan Lambertus Lagawuyo Kumanireng.” Cap bahwa Yoakim Gresituli Ata Maran itu pengacau kampung Eputobi dibuat semata-mata karena Yoakim Gresituli Ata Maran dan rekan-rekan seperjuangannya melancarkan gerakan antikorupsi di kampung Eputobi. Gerakan tersebut secara langsung melawan korupsi yang dipelopori oleh Mikhael Torangama Kelen dalam periode pertama masa jabatannya sebagai kepala desa Lewoingu.

Karena gerakan antikorupsi itu dipandang sebagai suatu kekuatan real yang dapat menghentikan langkah Mikhael Torangama Kelen menuju priode kedua masa pemerintahannya, maka segala cara pun ditempuh untuk memberangusnya. Untuk itu serangkaian pertemuan digelar. Mulanya, tiga nama, yaitu Yoakim Gresituli Ata Maran, Yose Kehuler, dan Sis Tukan dijadikan target operasi kriminal mereka. Kemudian nama Pius Koten dan Dere Hayon pun ikut dijadikan target.

Pada awal April 2007, Lambertus Lagawuyo Kumanireng mulai bergerak mencari orang-orang yang bisa menghabisi Yoakim Gresituli Ata Maran, Yose Kehuler, dan Sis Tukan. Dua orang Eputobi sempat dia dekati. Kepada mereka dia menawarkan pekerjaan jahat yang berimbalkan uang. Tetapi mereka dengan tegas menolak tawarannya.

Karena gagal menemukan orang-orang yang mau dibayar untuk melaksanakan perbuatan jahat yang mereka inginkan, Mikhael Torangama Kelen dan Lambertus Lagawuyo Kumanireng akhirnya memutuskan untuk merekrut tiga anak Lambertus Liko Kumanireng untuk dijadikan pelaku utama dalam pembunuhan terhadap Yoakim Gresituli Ata Maran. Selain itu mereka juga berhasil merekrut Petrus Naya Koten untuk menjadi umpan yang bisa menggiring Yoakim Gresituli Ata Maran ke arena pembantaian yang telah mereka persiapkan di Blou. Perekrutan Petrus Naya Koten itu terjadi hanya beberapa hari sebelum hari Senin 30 Juli 2007.

Bahwa tikungan di Blou yang 70 meter di sebelah utaranya terletak sebuah pondok itu dipersiapkan untuk dijadikan tempat pembunuhan Yoakim Gresituli Ata Maran, itu tampak pS malam sebelum kejadian perkara. Pada malam itu, sepeda motor GL berwarna hitam yang selama itu dipakai oleh Yoka Kumanireng tampak diparkir di pinggir jalan di tikungan itu, sementara dua orang berkulit hitam sedang duduk di deker. Pada malam kejadian perkara, Yoka Kumanireng bersama beberapa pria berdiri di pinggir jalan di tempat kejadian perkara. Ketika kepergok berada di situ, Yoka Kumanireng tidak mengenakan baju. Dia hanya mengenakan celana panjang. Sosoknya jelas kelihatan, karena tertangkap sorot lampu sebuah sepeda motor yang melintas di situ.

Ya, bersama Mikhael Torangama Kelen dan Lambertus Lagawuyo Kumanireng, tiga orang anak kandung Lamber Liko Kumanireng menjadi pelaku utama pembunuhan terhadap Yoakim Gresituli Ata Maran. Untuk membebaskan ketiga anaknya dari jerat hukum, Lamber Liko Kumanireng sibuk mencari uang hingga ke Lato. Tetapi hingga kini, ketiga anaknya itu tetap berstatus sebagai tersangka bersama Mikhael Torangama Kelen.

Di Kupang beberapa waktu lalu, salah seorang anaknya yang terlibat aksi kriminal di Blou mendapat suatu pelajaran cukup berharga. Tetapi seperti halnya kedua kakaknya, dia pun tetap menyangkali perbuatan jahat yang mereka lakukan di Blou. Penyangkalan pun terus dilakukan oleh Mikhael Torangama Kelen dan Lambertus Lagawuyo Kumanireng. Tetapi waktu semakin menunjukkan kemampuannya untuk membuka kebenaran yang selama ini coba mereka ingkari. Makin banyak orang dari kubu timur di kampung Eputobi yang mulai menyadari bahwa mereka terjebak dalam permainan kriminal yang dirancang oleh Mikhael Torangama Kelen dan Lambertus Lagawuyo Kumanireng.

Ya, belum terlambat bagi mereka untuk bergabung dalam barisan para pejuang kebenaran dan keadilan di kampung Eputobi, Lewoingu, Flores Timur. ***

Minggu, 03 April 2011

Sekali lagi: Menunggu keseriusan Polres Flores Timur

Hingga tulisan ini dibuat, penyidik Polres Flores Timur belum juga mengambil-langkah nyata untuk menerobos ketidakjelasan proses hukum atas perkara pembunuhan terhadap Yoakim Gresituli Ata Maran. Hingga kini mereka masih bertahan dengan metode lama, yaitu metode fokus pada empat tersangka. Padahal yang terlibat dalam perkara pembunuhan yang terjadi di Blou pada Senin malam 30 Juli 2007 itu bukan hanya empat orang yang sudah dijadikan tersangka. Masih terdapat beberapa orang lain yang juga terlibat dalam perkara pembunuhan tersebut. Salah satunya adalah Lambertus Lagawuyo Kumanireng. Orang ini terlibat langsung baik dalam perencanaan maupun dalam pelaksanaan kejahatan tersebut.

Seperti diceriterakan oleh salah seorang dari kubu penjahat Eputobi, pembunuhan terhadap Yoakim Gresituli Ata Maran direncanakan dalam serangkaian pertemuan. Hal ini dia ungkapkan sebagai pelampiasan dari rasa kecewanya terhadap Mikhael Torangama Kelen. Sudah menjadi rahasia umum bahwa rumah Lambertus Lagawuyo Kumanireng menjadi salah satu tempat favorit bagi para penjahat Eputobi untuk merancang pembunuhan tersebut. Perannya pada malam kejadian perkara, Senin malam 30 Juli 2007, dan pada Selasa pagi, 31 Juli 2007 dengan mudah dapat ditunjukkan. Setelah tanggal 31 Juli 2007, beberapa kali dia kepergok berada di pondok tempat Yoakim Gresituli Ata Maran dianiaya pada Senin malam 30 Juli 2007. Di pondok itu, dia melakukan aktivitas magis yang dimaksud untuk menutupi jejak-jejak kejahatan mereka. Tetapi jejak-jejak kejahatan mereka dengan mudah dapat dilacak.

Sejumlah informasi penting yang berkaitan dengan pembunuhan yang dilakukan oleh Mikhael Torangama Kelen dan anggota-anggota komplotannya itu sudah disampaikan kepada Kasat Reskrim dan Kapolres Flores Timur. Namun hingga kini tidak jelas tindak lanjutnya. Seandainya ada keseriusan di pihak Polres Flores Timur, semua orang yang terlibat dalam kejahatan tersebut dengan mudah dapat dibekuk lalu diajukan ke pengadilan. Justru karena tidak serius, maka hingga kini empat orang yang telah dijadikan tersangka belum juga diajukan ke Pengadilan Negeri Larantuka. Pergantian Kasat Reskrim dan Kapolres Flores Timur pada tahun 2010 belum juga berdampak efektif bagi proses hukum terhadap para pelaku pembunuhan tersebut.

Hingga kini keluarga korban masih berusaha menunggu keseriusan Polres Flores Timur dalam menangani perkara pembunuhan terhadap Yoakim Gresituli Ata Maran. Seandainya ketidakseriusan pihak Polres Flores Timur akan berujung pada kegagalan proses hukum atas para pelaku pembunuhan tersebut, biar saja. Kami toh tidak akan kehilangan metode untuk memberantas kejahatan yang dilakukan oleh Mikhael Torangama Kelen dan anggota-anggota komplotannya. ***