Kamis, 14 Agustus 2008

Info pembangunan Lewotana

Tanggal 1 Agustus 2008 sudah berlalu. Hari itu 50 tahun lalu, di kampung Eputobi lahir Sekolah Dasar Katolik yang diberi nama St. Pius X. Pada tanggal 1 Agustus 2008 SDK St. Pius X berulang tahun emas. Tetapi tak ada pesta emas yang dirayakan di kampung Eputobi pada hari itu. Pada hari itu kegiatan di SDK Eputobi berjalan seperti biasa. Tak jauh dari kompleks SDK Eputobi berlangsung acara Nebo untuk almarhum Bapak Petrus Lagawuyo Lamatukan.


Pesta emas memang tak diperlukan oleh masyarakat yang sedang dilanda perpecahan dan ketegangan akibat kejahatan yang dilakukan oleh sekelompok orang Eputobi pada Senin malam, 30 Juli 2007. Kebiadaban mereka sungguh-sungguh keterlaluan. Korban kebiadaban mereka adalah orang yang tak bersalah apa-apa. Dan itu yang membuat kehidupan sehari-hari di kampung Eputobi diliputi dengan perang dingin. Meskipun demikian pembangunan di sektor-sektor tertentu berjalan.


Coba perhatikan tampilan gereja stasi Eputobi. Setelah dipermak selama 64 hari yang dimulai pada tanggal 24 September 2007, wajahnya menjadi cantik. Tiga menara bertengger di bagian depannya. Di kaki menara tengah (menara induk) tertulis GEREJA ST. YOSEF EPUTOBI. Di bawah perlindungan St. Yosef, gereja Eputobi diharapkan menjadi umat Allah yang semakin kokoh dalam iman kepada Kristus dan kuat dalam pengabdian kepada sesama, lewotana, bangsa, dan negara, serta umat manusia seluruhnya.


Renovasi gereja Eputobi menelan dana Rp 20.000.000 (dua puluh juta rupiah). Dana itu berasal dari sumbangan Bupati Kabupaten Flores Timur. Kelancaran pekerjaan renovasi tersebut dimungkinkan berkat partisipasi umat yang dimotori oleh bapak Aloysius Ado Tukan, bapak Frans Niku, dan bapak Domi Doweng Kelen. Pemerintah desa Lewoingu tidak berpartisipasi sedikit pun dalam pekerjaan tersebut. Dari kubu pemerintah malah terjadi upaya untuk memboikot pekerjaan tersebut.


Gereja stasi Eputobi pun telah memiliki alat penerang modern, berkat adanya generator yang dibeli dengan uang kolekte umat. Pengelolaan keuangan secara baik oleh Ketua Stasi Eputobi, Bapak Belang Manuk, memungkinkan pelaksanaan renovasi dapat berjalan lancar dan alat penerang modern untuk gereja Eputobi diadakan.


Dari gereja kita ke sekolah, maksudnya ke kompleks SDK St. Pius X. Gedung SD yang dibangun setelah peristiwa gempa bumi 1992 itu masih kokoh berdiri. Halaman depannya berhiaskan kembang-kembang yang menyegarkan mata. Di kompleks sekolah dasar itu kini sudah dibangun fundasi Balai Serbaguna dengan dana dari Jerman, dan fundasi lapangan voli dengan dana dari Bupati Kabupaten Flores Timur. Pada hari Kamis, 7 Agustus 2008 dilakukan peletakan batu pertama pembangunan gedung perpustkaan berukuran 8 X 7.21 meter. Dana sebesar Rp 47.000.000 (empat puluh tujuh juta rupiah) untuk pembangunan perpustkaan SDK Eputobi diperoleh dari pemerintah pusat.


Selain itu tersedia pula dana sebesar Rp 51.000.000 (lima puluh satu juta rupiah) untuk Program Percepatan Pengembangan Daerah Tertinggal dan Khusus (P2DTK). Di Eputobi dana itu dipakai untuk 1) Peningkatan mutu guru, 2) Pengadaan buku dan alat bantu belajar, 3) Peningkatan manejemen sekolah, 4) Beasiswa, dan 5) Pembangunan infrastruktur (perbaikan/pemasangan instalasi air minum.


Di tengah situasi karut marut, masyarakat beradab di kampung Eputobi, yang dimotori oleh beberapa tokoh pentingnya melakukan aktivitas-aktivitas pembangunan yang berguna bagi kampung halamannya. Dari tangan-tangan mereka inilah lewotana diharapkan maju jaya. Semoga.


(Info pembangunan Lewotana ini diperoleh dari Ketua Komite Sekolah Dasar Katolik Eptobi, bapak Aloysius Ado Tukan).***

Kamis, 07 Agustus 2008

"Jawa Timur," "Jawa Barat," dan "Jalur Gaza"

Baris ini diketik di sebuah warung internet di Maumere, setelah penerbangan ke Jakarta dengan Merpati dibatalkan. Mulanya informasi tentang pembatalan itu agak mengecewakan, tapi setelah ditimbang-timbang kutemukan ada hikmahnya juga. Paling kurang aku punya waktu untuk membaca buku yang kubeli di Candraditya, dua hari lalu. Dan satu lagi, aku bisa merampungkan catatan tentang berbagai pengalaman selama aku berada di kampung Eputobi-Lewoingu, di Flores Timur.

Sejak hari Minggu malam, 27 Juli 2008 hingga Kamis pagi, 7 Agustus 2008, aku berada di Eputobi. Tujuan utama keberadaanku di Eputobi kali ini adalah ikut berpartisipasi dalam acara peringatan satu tahun wafatnya adik kami Yoakim Gresituli Ata Maran. Acara peringatan tersebut berhasil diselenggarakan dengan sederhana pada hari Rabu, 30 Juli 2008, dihadiri oleh anggota-anggota Keluarga Besar Ata Maran, sanak saudara dan handai taulan di Lewoingu dan sekitarnya. Acara tersebut ditandai dengan misa yang dipimpin oleh Romo Lala MSF dan makan bersama. Frater Eko MSF yang baru menjalani TOP di Paroki Lewolaga pun hadir.

Ketika acara itu diselenggarakan, kampung Eputobi sedang berada dalam suasana duka. Pada hari Senin pagi, 28 Juli 2008 Bapak Petrus Lagawuyo Lamatukan dipanggil pulang oleh Yang Maha Kuasa, setelah menderita sakit cukup lama. Sakit pula yang membuat Ibu Geno, guru SDK Eputobi berpulang ke rumah Bapa di Sorga pada hari Sabtu, 19 Juli 2008.

Melayat ke rumah duka, yaitu rumah almarhum Petrus Lagawuyo Lamatukan membuat aku bertemu dengan sejumlah orang Eputobi. Datang melayat ke rumah duka itu adalah orang-orang dari "Jawa Timur" dan "Jawa Barat." Yang "Jawa Timur" berkubu ke bagian timur kampung Eputobi. Yang "Jawa Barat" berkubu ke bagian barat kampung Eputobi. Kategorisasi semacam itu murni made in Eputobi. Anda sendiri sudah tahu 'kan pihak mana yang dimaksud dengan "Jawa Timur" dan pihak mana yang dimaksud dengan "Jawa Barat?" Di antara "Jawa Timur" dan "Jawa Barat" terletak "Jawa Tengah," yang kemudian lebih terkenal dengan sebutan "Jalur Gaza." Anda tahu 'kan apa yang terjadi di Jalur Gaza di Timur Tengah sana? Jika anda tahu ceritera tentang Jalur Gaza, anda pun dengan mudah dapat membayangkan apa yang terjadi sehari-hari di "Jalur Gaza" versi Eputobi.

Di "Jalur Gaza" batu-batu pernah beterbangan menghantam dua rumah. Lantas, menurut ceritera penduduk "Jalur Gaza," seringkali mereka pun diberondong dengan "peluru" berupa kata-kata yang tidak enak didengar. Oleh siapa? Ya oleh orang-orang "Jawa Timur." Kata-kata yang tidak enak itu pun ikut mengganggu kuping orang-orang tertentu dari "Jawa Barat," ketika mereka mengambil uang BLT atau ketika mereka membeli raskin.

Meskipun demikian, penduduk "Jalur Gaza" tetap sabar dalam menghadapi segala macam "berondongan" itu dengan tenang. Mereka pun tetap menggunakan kecerdasan dan kearifan khas Lewoingu dalam menghadapi segala macam tantangan permasalahan semacam itu. Salah satu kelebihan mereka ialah, mereka masih memiliki sikap humoris. Sehingga masalah dan tantangan kekerasan dapat dinetralisir dengan baik. Kalau anda perhatikan dengan cermat, anda pun bisa menemukan adanya korelasi antara kecerdasan dan kearifan dengan sikap humoris. Yang jadi pertanyaan ialah apakah orang-orang jahat itu memiliki sikap humoris? Anda bisa menemukan jawabannya sendiri.

Adanya "Jawa Timur", adanya "Jawa Barat," dan adanya "Jalur Gaza" itu karena di Eputobi terdapat orang-orang yang sungguh-sungguh jahat. Setiap bertemu dengan orang-orang di luar Lewoingu, entah di desa-desa di sekitar Lewoingu, entah di kota Larantuka, juga di kota Maumere, mereka secara spontan menyatakan rasa heran sekaligus rasa jijik mereka, bahwa di sebuah kampung bernama Eputobi terdapat orang-orang yang bisa melakukan kebiadaban seperti yang terjadi pada Senin malam, 30 Juli 2007 itu. Mereka bilang, "...... itu perbuatan yang sungguh-sungguh biadab." Ketika saya berkunjung ke suatu kampung yang terletak di kaki Ile Mandiri pun ada saja orang yang langsung menyinggung kebiadaban itu setelah mereka tahu bahwa aku berasal dari suku Ata Maran. Di suatu desa di pantai utara Flores Timur, seorang anak muda bilang, "kebiadaban semacam itu hanya terjadi di Lewoingu."

Menarik bahwa perjuangan untuk membongkar tuntas kasus pembunuhan adik kami Yoakim Gresituli Ata Maran mendapat dukungan moril dari berbagai kalangan masyarakat, tidak hanya di Lewoingu tetapi juga di luar kawasan Lewoingu. Orang-orang di Larantuka, di Heras, di Waiwio, di Lewotala, di Boru, dan Maumere dan di tempat-tempat lainnya ikut memberikan dukungan moril. Di Heras, beberapa orang bahkan ikut menyatakan rasa sedih mereka yang mendalam atas meninggalnya Yoakim Gresituli Ata Maran.

Tetapi di Eputobi anggota-anggota komplotan penjahat dan sejumlah pendukungnya malah terus berkoar-koar dengan segala macam arogansinya. Arogansi mereka ditandai antara lain berupa tuduhan bahwa yang membunuh Yoakim Gresituli Ata Maran adalah tiga orang muda dari "Jawa Barat." Seorang kakak korban disebut sebagai penjahat oleh seorang guru SDK Eputobi. Seorang lagi dituduh sebagai pengacau, juga oleh seorang guru bersama isteri dan anaknya. Mereka yang menuduh itu tentu masuk dalam kubu "Jawa Tmur." Di "Jawa Timur" penjahat-penjahat disanjung-sanjung dan dibela-bela sebagai pahlawan BLT dan raskin. Ini aneh tapi nyata.

Lalu ada beberapa orang Eputobi perantuan yang sedang berlibur di kampung halaman tercinta. Ada yang mampu menempatkan diri, bersikap arif-bijaksana. Tetapi ada pula yang tadinya diharapkan dapat memainkan peran sebagai pembawa damai, pembawa kebaikan, malah menjadi penyebab keresahan. Ini gara-gara mulut yang tak bisa direm. Yang terlanjur mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas di muka umum akhirnya menjadi "orang yang terasing di negeri sendiri." Kasihan.

Masih ada ceritera tentang kampung Eputobi. Tetapi untuk kali ini cukup dulu. Setelah tiba di Jakarta, aku akan merangkainya, baik di kolom kdk maupun di atamaran.blogspot.com.

Sudah dua jam, aku duduk di warnet ini. Aku harus kembali ke tempat penginapan di kota yang cukup sibuk dengan kegiatan-kegiatan bisnisnya. Dari dalam warnet ini terdengar jelas bising suara kendaraan bermotor, tak banyak beda dengan suara bising kendaraan bermotor di jalan-jalan kecil di kota Jakarta. Ruangan warnet ini diusahkan disejukkan dengan mesin AC. Tetapi mesin AC-nya tampak sudah tua dan dekil, sehingga hawanya masih lumayan panas juga. Lalu kecepatan internet di warnet ini terbilang lamban bahkan sangat lamban. Kita yang sudah biasa dengan internet kecepatan tinggi (broadband) merasa kurang nyaman dalam berselancar di dunia maya. Tapi masih untung bahwa di kota ini tersedia beberapa warung internet, sehingga catatan ini dapat kubuat dan diupload ke atamaran.blogspot.com.

Sore ini juga aku jadi ingat akan berbagai pesan dan harapan dari berbagai kalangan masyarakat beradab di Eputobi dan sekitarnya. Semoga keinginan-keinginan dan harapan-harapan baik mereka terkabulkan, cepat atau pun lambat. Semoga Tuhan senantiasa menyertai setiap langkah perjuangan kita.***

Minggu, 13 Juli 2008

Apa yang baik dari kampung Eputobi, di Lewoingu, Flores Timur?


Apa yang terjadi di kampung Eputobi, di Lewoingu, Flores Timur, sejak 2006 hingga sekarang ini merupakan salah satu contoh terjadinya implosi, dengan dampak negatif berupa perpecahan sosial dan kerusakan nilai-nilai budaya, yang sangat parah. Di sini implosi diartikan sebagai ambruknya suatu tatanan hidup bersama akibat terjadinya kejahatan internal. Ini terjadi akibat tekanan-tekanan dari pihak-pihak tertentu. Tatanan hidup bersama yang dimaksud di sini adalah tatanan hidup komunitas Eputobi, yang dalam sejarah Lewoingu dikenal sebagai Komunitas Dumbata atau Komunitas Lewowerang.

Setelah berhasil membangun kehidupan bersama yang harmonis selama beberapa abad dalam lintasan sejarah Lewoingu, komunitas yang bermukim di kampung Eputobi itu kini terbelah menjadi dua kelompok, masing-masing dengan sikap mental budaya yang saling bertolak belakang. Kelompok yang satu bermental korup dan karena itu menghalalkan pembunuhan sebagai jalan untuk mempertahankan kepentingan-kepentingan politik dan untuk meraih tujuan-tujuan politik kelompoknya. Sebagian besar dari mereka yang bermental demikian bermukim di blok timur kampung Eputobi. Tetapi ada pula pengikut mereka yang bermukim di blok barat.

Kelompok yang satu lagi menjunjung tinggi nilai-nilai seperti kebenaran, keadilan, kejujuran, rasionalitas, dll. Kelompok ini menentang praktek-praktek korupsi semasa pemerintahan Mikhael Torangama Kelen. Kelompok ini melawan kejahatan bukan dengan kejahatan, tetapi dengan cara-cara yang rasional, cara-cara orang berbudaya tinggi. Meskipun sering diprovokasi oleh anggota-anggota komplotan penjahat yang membunuh Akim Maran, kelompok ini mampu mengendalikan diri. Jika mereka tidak mampu mengendalikan diri, kekacauan lebih besar bisa melanda kampung Eputobi.

Sebagian besar dari anggota kelompok yang baru saja disebut di atas bermukim di bagian barat kampung Eputobi. Tetapi ada pula anggota mereka yang bermukim di blok timur. Seiring dengan perjalanan waktu, kelompok ini tampil sebagai suatu kekuatan sosial yang membanggakan bukan dalam artian fisik, tetapi dalam artian budaya. Di dalam kelompok ini tetap dirawat dan dilestarikan budaya menghargai kebersamaan (persatuan), kebenaran dan keadilan warisan nenek moyang Lewoingu. Karena itu kelompok ini sering saya sebut sebagai masyarakat beradab Eputobi. Dengan menggunakan kecerdasan dan kearifan kultural khas Lewoingu, mereka mampu menghadapi tantangan dan ancaman dari komplotan penjahat yang bermarkas di blok timur kampung Eputobi itu.

Perlu anda ketahui bahwa di saat pemerintah desa Lewoingu kehilangan kemampuan untuk mengendalikan keadaan seperti yang terjadi sejak meletusnya kekacauan hingga sekarang ini, para warga masyarakat beradab di Eputobi itulah yang menjadi tulang punggung pelaksanaan kegiatan-kegiatan penting, seperti kegiatan doa, pembangunan fisik seperti merenovasi gereja dan pembangunan gedung serba guna untuk SDK Eputobi, dan kegiatan olah raga. Dalam kehidupan sehari-hari mereka terus membina solidaritas etis di antara sesama anggota kelompok. Secara bersama-sama mereka pun membangun perisai untuk membela diri dari serangan musuh.

Kiranya jelas bahwa apa-apa yang baik tetap tumbuh dan berkembang di kampung Eputobi, di Lewoingu, Flores Timur. Bumi Eputobi masih memiliki tanah yang baik bagi tumbuh dan berkembangnya kebaikan demi kebaikan. Dan kebaikan pasti akan mengalahkan kejahatan.

Gunakanlah akal budi dan hatimu untuk mengerti bahwa apa-apa yang baik itu yang perlu engkau dukung. ***

Sabtu, 12 Juli 2008

Orang-orang yang terjebak dalam pusaran kejahatan


Kian lama, kian jelas nampak bahwa mereka kian mengisolasi diri dari lingkungan pergaulan masyarakat yang berbudaya dan beradab lebih tinggi di kampung Eputobi di Lewoingu Flores Timur. Jika dulu, mereka sering tampil gagah dan suka show of force (pamer kekuatan), belakangan ini tampilan mereka seperti keong yang tanduknya ditusuk dengan lidi. Jika dulu mereka sering berkoar-koar sebagai orang-orang hebat, kini suara-suara mereka lenyap ditelan bumi. Dan pintu-pintu rumah mereka pun semakin tertutup rapat. Yang mereka lakukan di balik sana adalah menggerutu dan menggerutu, lalu bergumul dengan diri sendiri.

Mereka adalah orang-orang yang tersesat di siang bolong, lalu terjebak dalam pusaran kejahatan Senin malam, 30 Juli 2007. Yang kumaksud di sini bukanlah para pelaku utama pembunuhan Akim Maran, tapi orang-orang Eputobi yang gampang terperdaya oleh angin sorga yang dihembus-hembuskan oleh si iblis besar berbaju akademis, lalu terseret dalam arus kejahatan yang mengerikan itu. Sedangkan para pelaku utama pembunuhan Akim Maran adalah orang-orang yang sejak lama berbakat sebagai penjahat. Maka ketika salah seorang anggota keluarga dari penjahat Eputobi yang kini ditahan di Polres Flores Timur itu mengira bahwa mereka bukan keturunan penjahat, langsung ketahuan bahwa dia salah besar. Dia rupanya tidak tahu kelakuan senior-seniornya dari keluarganya di masa lalu.

Hembusan angin sorga dari si iblis besar ini pun berhasil mempertautkan kepentingan antara suku Kumanireng Bikopukeng dan suku Kumanireng Blikololong. Padahal di masa lalu kedua pihak itu sering beradu kepentingan. Sejak tahun 2006, mereka mulai bersama-sama mengejar suatu mimpi yang mustahil jadi kenyataan. Mereka bermimpi menjadi pemimpin tertinggi adat Lewoingu. Maka sejarah Lewoingu pun dipalsukan. Demikian pula halnya nasib sejarah pemilikan tanah, khususnya di kampung Eputobi. Rayuan gombal si iblis besar berhasil memacu ambisi mereka untuk mengejar dengan harapan dapat meraih mimpi semu itu.

Si iblis besar itu tak pernah sanggup menggunakan jalan pikiran yang logis. Tapi dia memang punya kelebihan, yaitu kemampuan untuk mengecoh. Orang-orang yang tidak cakap berpikir gampang dia perdaya. Orang-orang yang tidak kuat iman langsung jatuh dalam pelukannya. Itulah kelebihan si iblis besar.

Seorang tua yang tahu maksud tidak baik dari si iblis besar pernah menasihati yunior-yuniornya. Kamu jangan percaya dan jangan pula ikuti apa kata dia, karena dia itu beda dengan kita. Sekarang dia pura-pura baik dengan kita, tapi suatu waktu dia akan menginjak-injak kita. Tapi di antara yunior-yunior itu ada yang tidak percaya akan omongan orang tua. Sikap melawan ditunjukkan dengan kian merapat dan lengketnya dia dengan si iblis besar. Setelah meletusnya kasus pembunuhan Akim Maran barulah dia kelabakan sendiri dan stress. Masih untung bahwa di antara mereka masih terdapat orang-orang yang mau membela kebenaran. Tetapi tokoh-tokoh penting mereka di kampung Eputobi berada dalam pelukan mesra si iblis besar. Saking eratnya pelukan itu sehingga sulit sekali bagi mereka untuk meloloskan diri. Padahal ada saja di antara mereka yang sejak sekian waktu lalu sudah menyadari bahwa mereka menjadi korban dari bualan si iblis besar. Tapi apa daya, tangan, otak, pikiran, dan hati mereka sudah terbelenggu. Hati mereka sudah menjadi kenisah bagi roh jahat.

Yang kasihan adalah orang-orang sederhana, yang karena kurang pengetahuan, kurang ini, kurang itu lalu gampang dipengaruhi oleh angin sorga yang dihembuskan oleh si iblis besar. Mereka akhirnya terpaksa terseret dalam arus yang dengan mudah meluncurkan mereka ke dalam pusaran kejahatan yang sangat mengerikan itu. Mereka mengira, dengan mendukung komplotan penjahat itu nasib hidup mereka akan menjadi lebih baik. Padahal di dalam kenyataan tidak demikian. Mudah-mudahan mereka kini mulai menyadari bahwa mereka pun menjadi korban dari tipu muslihat si iblis besar. Mudah-mudahan, mereka pun mulai menyadari bahwa yang mereka bela bukan kepentingan kesejahteraan mereka sendiri, tetapi nafsu si iblis besar untuk menggenggam kekuasaan di kampung Eputobi dan Lewoingu. Mudah-mudahan mereka pun menyadari bahwa dengan mendukung penjahat-penjahat itu mereka pun melakukan kejahatan pada Senin malam, 30 Juli 2007 dan kejahatan-kejahatan lain, antara lain korupsi.

Yang juga ikut terseret ke dalam pusaran kejahatan itu adalah oknum-oknum guru tertentu. Ada yang mengajar di SDK Eputobi. Ada yang mengajar di TK Eputobi. Mereka adalah contoh tipikal dari orang-orang yang berperan tidak sesuai dengan status sosial mereka. Sebagai guru, mereka itu pendidik dengan tugas utama membudayakan kepribadian anak-anak muda melalui proses belajar formal. Sesuai dengan tugas itu, mereka mestinya menjadi panutan baik di sekolah maupun di masyarakat. Tetapi di dalam kenyataan mereka malah sibuk berkasak-kusuk untuk membela penjahat-penjahat itu. Ada guru senior yang mengeluh, bahwa kelakuan oknum-oknum guru yang besangkutan sungguh-sungguh keterlaluan. Guru-guru semacam itu sebaiknya dipindahkan saja ke tempat lain. Ini untuk menyelamatkan kepentingan pendidikan, kepentingan generasi muda Lewoingu.

Si iblis besar berhasil menjebak puluhan orang Eputobi ke dalam pusaran kejahatan Senin malam, 30 Juli 2007. Angin sorga yang dihembuskannya menyusahkan banyak orang, banyak kalangan. Tapi si iblis besar merasa diri paling benar. Bahkan dia pernah mengira bahwa dirinya dilindungi oleh Tuhan. Di kalangan komplotan penjahat Eputobi, si iblis besar dipandang sebagai pejuang, pembela kebenaran dan keadilan. Memang si iblis besar itu pandai menyamar. Dia bisa menyamar menjadi malaikat.

Untung bahwa tak satu pun warga masyarakat beradab di Eputobi dan sekitarnya yang mau terkecoh oleh angin sorga yang dihembus-hembuskan oleh si iblis besar itu. Mereka terus berdoa dan berupaya agar si iblis besar itu cepat tenggelam ke dasar paling dalam dari naraka. Karena hanya di situlah terdapat tempat yang paling pantas baginya. ***

Selasa, 08 Juli 2008

Orang-orang yang tidak berhatinurani


Setelah membaca kisah penganiayaan yang dialami oleh Yoakim Gresituli Ata Maran (Akim Maran), dan terutama setelah menyaksikan sendiri seperti apa ulah tingkah empat pelakunya yang ditahan di Polres Flores Timur, ada saja orang yang menyatakan rasa jijik mereka. Mereka jijik melihat sikap angkuh penjahat-penjahat Eputobi itu. Mereka juga merasa jijik ketika melihat salah seorang penjahat yang tangannya diborgol tapi malah tertawa. "Mereka itu tidak tahu malu." Begitu kata-kata yang sempat terlontar dari mulut sejumlah orang yang menyaksikan adegan itu.

Sebelumnya seorang rohaniwan sempat menyinggung bahwa di kampung Eputobi terdapat pembunuh berdarah dingin. Setelah membunuh orang, mereka merasa tenang-tenang saja, mereka tidak merasa bersalah. Padahal kejahatan yang mereka lakukan adalah kejahatan sangat besar. Membunuh orang yang tidak bersalah adalah suatu perbuatan yang amat sangat biadab.

Yang jadi pertanyaan ialah, "Dari mana datangnya kebiadaban yang amat sangat itu?" Tentu tidak dari mata lalu turun ke hati, karena di situ orang tak lagi bermain dengan hati. Kebiadaban semacam itu justru menunjukkan adanya orang-orang yang amat sangat biadab. Dan mana ada orang amat sangat biadab yang mampu melakukan sesuatu berdasarkan hati nuraninya. Kiranya jelas bahwa para pembunuh Akim Maran adalah orang-orang yang telah kehilangan hati nurani mereka masing-masing. Karena itu rasa kemanusiaan pun tak lagi ada dalam diri mereka. Mereka mengalami mati rasa. Maka mereka pun merasa bangga akan kejahatan yang telah mereka lakukan pada Senin malam, 30 Juli 2007 itu. Kematian orang yang tidak bersalah itu bahkan sempat mereka rayakan sebagai suatu pesta kemenangan politik. Lalu mereka pun berusaha untuk menutup-nutupi perbuatan jahat mereka itu dengan segala macam cara. Untuk itu pula, tiada hentinya mereka ulang-alik mencari dukun yang mau diajak untuk berkomplot dengan mereka. Jelas, bahwa kebiadaban yang sangat mengerikan itu datang dari orang yang tak lagi berhatinurani.

Sungguh memprihatinkan bahwa di suatu kampung kecil bernama Eputobi di Lewoingu, Flores Timur, telah tumbuh komplotan penjahat. Kepala kompolotan itu kini meringkuk di tahanan Polres Flores Timur. Selain empat orang yang kini telah dijadikan tersangka utama, anggotanya terdiri dari oknum-oknum aparatur desa Lewoingu dan sejumlah orang kampung yang telah kehilangan hati nurani mereka masing-masing. Selama masa pemerintahan Mikhael Torangama Kelen (2000-2007), di desa Lewoingu, mereka itu memperoleh keuntungan finansial, baik melalui proyek-proyek tertentu maupun melalui praktek-praktek korupsi. Para pendukung dan simpatisan mereka terdiri dari para praktisi black magic dan orang-orang miskin. Karena miskin, hati mereka gampang ditaklukkan dengan uang dan bantuan-bantuan material lain. Padahal bantuan-bantuan itu bukan berkat jasa pemerintah desa Lewoingu.

Meskipun kecil nilainya, tetapi barang-barang material itu rupanya lebih bernilai bagi mereka ketimbang nilai seorang anak manusia. Maklum, mereka sering berada dalam keadaan terdesak dalam hal ekonomi. Sehingga mereka pun ikut-ikutan mengidolakan seorang penjahat sebagai dewa penolong. Bersama para penjahat itu mereka akhirnya terus menapaki lorong-lorong gelap di kampung Eputobi hingga kini. Di antara mereka, ada pula yang kini ikut-ikutan berharap-harap cemas agar si penjahat itu cepat dibebaskan, biar dia dapat tampil lagi sebagai dewa penolong. Karena itu, mereka pun berusaha keras untuk ikut menutup-nutupi kejahatan besar yang dilakukan oleh Mikhael Torangama Kelen dan kawan-kawan itu. Tanpa disadari, mereka pun menjadi bagian dari kawanan penjahat itu.

Komplotan penjahat itu terbentuk berdasarkan nasihat dari si tokoh intelektual. Biaya operasional sehari-hari disuplai oleh si penyandang dana. Dukungan politik, mereka peroleh dari oknum elite politik tertentu. Sejak tahun 2006, si tokoh intelektual sibuk membolisasi dukungan. Sejak tahun itu pula si penyandang dana sudah menyebarkan fitnah tentang Akim Maran hingga ke Larantuka. Dia memfitnah Akim Maran sebagai pengacau di kampung Eputobi. Fitnah itu pun sempat sampai ke seorang kepala sekolah dan elite politik tertentu di kota Larantuka. Sedangkan si elite politik merasa keki karena salah satu permainannya diketahui. Melalui jalur tertentu si elite politik menjadi dekat dengan si penyandang dana. Lama kelamaan mereka menjadi sohib dan saling membutuhkan. Bertiga, mereka adalah otak di balik pembunuhan Yoakim Gresituli Ata Maran pada Senin malam, 30 Juli 2007.

Memang menarik juga kalau kita mencermati perilaku mereka. Keterlibatan tiga orang itu sebagai otak kejahatan tersebut secara jelas memperlihatkan bahwa sekolah yang tinggi tidak berkorelasi dengan kepribadian yang baik. Demikian pula usia yang bertambah tua tidak berkorelasi dengan kebijaksanaan. Kasus kejahatan itu secara gamblang menuturkan kepada kita bahwa pendidikan tinggi yang pernah dikenyam secara formal oleh seseorang tidak menjadi garansi baginya untuk memperoleh kebeningan hati nurani. Yang lulusan perguruan tinggi tidak selalu lebih berhati nurani ketimbang seorang buta huruf di kampung Eputobi. Jelas sekali, bahwa hati mereka telah digelapgulitakan oleh nafsu mereka akan kekuasaan dan harta. Dalam hati mereka yang gelap akhirnya bercokol iblis demi iblis.

Hati yang gelap adalah hati tanpa nurani (hati tanpa terang, tanpa cahaya). Hati sebagai inti kepribadian mereka masing-masing tidak lagi memancarkan terang atau cahaya ilahi. Sehingga perilaku mereka pun tidak lagi didasarkan pada hukum moral, yaitu pedoman tentang baik buruk manusia sebagai manusia.

Orang yang berhatinurani, tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Dia sadar betul bahwa yang baik harus dilakukan, sedangkan yang buruk tidak boleh dilakukan. Seandainya dia pun melakukan yang buruk, dia mau mempertanggungjawabkannya. Sebagai manusia, dia merasa malu untuk melakukan yang buruk atau pun yang jahat.

Di seluruh dunia terjadi bahwa orang-orang yang tidak berahtinurani yang menjadi pengacau. Di mana mereka berada di situ terjadi kerusakan-kerusakan yang besar. Di mana mereka berada di situ terjadi kejahatan demi kejahatan. Karena tidak berhatinurani, mereka pun mampu melakukan kejahatan-kejahatan yang amat sangat mengerikan.

Di suatu kampung kecil bernama Eputobi, di Lewoingu, di Flores Timur, orang-orang yang tidak berhatinurani, selain mengacaukan kehidupan sehari-hari, juga melakukan kejahatan yang amat sangat mengerikan pada Senin malam, 30 Juli 2007. Karena iri hati dan benci, mereka membunuh orang yang tidak bersalah apa-apa, yaitu Yoakim Gresituli Ata Maran. Yang terlibat dalam kejahatan itu bukan hanya orang-orang kampung yang bersekolah rendah, tetapi mereka yang bersekolah tinggi.

Mereka itulah yang kini menjadi musuh utama masyarakat beradab di seluruh kawasan Lewoingu dan sekitarnya. Siapa pun mereka harus kita hadapi. Kita punya tekad yang sangat bulat untuk menghancurkan seluruh basis kekuatan mereka satu per satu. Kejahatan tak boleh dibiarkan merajalela. ***

Rabu, 25 Juni 2008

Mereka yang bermimpi tentang pembebasan


Beberapa waktu lalu, masyarakat beradab di Eputobi dan sekitarnya di Flores Timur diresahkan oleh isu pembebasan empat tersangka pelaku pembunuhan Akim Maran, pada Senin malam, 30 Juli 2007. Isu itu sengaja dihembuskan oleh pihak tertentu, yang selama ini sibuk berkasak-kusuk untuk menutup-nutupi kejahatan tersebut. Mereka yang menghembuskan isu itu secara jelas menyebutkan, bahwa empat orang tersangka itu akan dibebaskan pada hari Selasa, 17 Juni 2008.

Melalui SMS, isu pembebasan itu dengan cepat berhembus ke mana-mana. Jumat pagi, 13 Juni 2008, saya mendapat pertanyaan, "Benarkah empat orang tersangka itu akan dibebaskan pada tanggal 17 Juni 2008?" Pertanyaan itu saya jawab dengan mengatakan, bahwa saya belum memperoleh informasi tentang pembebasan itu. Tetapi setahu saya, berkas perkara pembunuhan Akim Maran itu sudah dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Larantuka. Jika urusan-urusan administrasinya sudah beres, empat orang tersangka itu akan dialihkan statusnya menjadi tahanan kejaksaan. Sumber formal di Larantuka belum memberikan informasi tentang pembebasan empat tersangka itu. Meskipun demikian, saya akan mencek benar atau tidaknya informasi tentang pembebasan itu kepada sumber formal dimaksud.

Di kampung Eputobi dan sekitarnya, isu pembebasan itu disambut dengan reaksi yang berbeda-beda. Di kalangan masyarakat beradab sempat timbul rasa resah. Rasa resah di hati mereka baru sirna setelah mereka memperoleh informasi bahwa Mikhael Torangama Kelen dkk tetap berstatus sebagai tersangka. Mereka yang telah ditetapkan sebagai tersangka itu tidak akan dibebaskan pada hari Selasa, 17 Juni 2008.

Tetapi reaksi girang muncul dari keluarga para tersangka dan pihak-pihak tertentu di Eputobi. Isu pembebasan itu mereka telan mentah-mentah. Maka pesta penyambutan pun langsung mereka rancang. Senin malam, 16 Juni 2008, pesta mulai digelar di rumah Mikhael Torangama Kelen. Tetapi pesta yang diharapkan memuncak pada hari Selasa, 17 Juni 2008 itu akhirnya lenyap begitu saja. Mereka yang ditunggu-tunggu ternyata tetap menginap di sel Polres Flores Timur. Seketika itu juga sunyi sepi kembali merambat ke seluruh pelosok blok timur kampung Eputobi. Kalau sudah begitu, mereka biasanya jadi enggan tampil di muka umum. Padahal di masa lalu, mereka biasanya gampang membusungkan dada mereka ke mana-mana. Waktu itu kampung Eputobi sering dilanda ketegangan dan konflik akibat arogansi dan premanisme mereka. Pada hari Minggu, 17 Juni 2007, misalnya, Yoakim Kumanireng, yang berjalan di lorong tengah kampung mengatakan begini, "Kampung ini milik saya, siapa yang macam-macam akan saya potong." Sekarang orang ini berstatus sebagai salah seorang tersangka utama pelaku pembunuhan Akim Maran.

Kiranya perlu dicatat di sini, bahwa sejak Mikhael Torangama Kelen, Yoakim Kumanireng, Yoka Kumanireng, dan Lorens Kumanireng ditangkap dan ditahan di Polres Flores Timur, situasi kehidupan sehari-hari di kampung Eputobi menjadi lebih baik ketimbang hari-hari sebelumnya. Keadaan akan menjadi lebih baik lagi, jika semua mereka yang terlibat dalam peristiwa pembunuhan tersebut ditangkap, ditahan, untuk diproses sesuai dengan hukum yang berlaku di negara ini. Jika aparat kepolisian berhasil membongkar hingga tuntas kasus pembunuhan Akim Maran, maka setiap pelakunya akan dikenai sanksi hukum yang jelas dan tegas.

Penerapan sanksi hukum yang adil dan pasti terhadap para pelaku kejahatan tersebut akan sangat berguna bagi pemulihan keamanan dan ketertiban hidup sehari-hari di kampung Eputobi. Untuk itu, aparat kepolisian negara RI tidak boleh gagal dalam membongkar kasus pembunuhan yang sangat terencana itu. Bahwa terdapat tantangan-tantangan tertentu dalam proses pembongkaran kasus kejahatan tersebut, itu jelas. Tetapi aparat kepolisian RI tidak boleh kalah dalam membekuk pelaku-pelakunya. Selain empat orang tersangka yang kini ditahan di Polres Flores Timur, masih terdapat orang-orang lain yang layak dijadikan tersangka. Para warga masyarakat beradab di kampung Eputobi dan sekitarnya sedang menunggu tibanya momen-momen pembekukan para tersangka lainnya oleh aparat kepolisian setempat. Mereka membutuhkan kepastian, bahwa siapa pun yang terlibat dalam kasus pembunuhan itu dihukum.

Mereka yang layak dijadikan tersangka baru itu berada dalam kelompok yang belakangan ini sering bermimpi tentang pembebasan Mikhael Torangama Kelen dkk. Di antara mereka, ada yang sibuk memaksa saksi kunci untuk mencabut kesaksiannya yang telah dituangkan dalam BAP. Padahal ketika dan selama memberikan kesaksiannya, si saksi kunci berada dalam keadaan sadar dan bebas. Sebelum membubuhkan tanda tangannya pada BAP-nya, dia diberi kesempatan untuk membacanya terlebih dulu dalam keadaan tenang. Tidak ada satu orang pun yang memaksa dia untuk menandatangani BAP-nya. Penilaian pihak tertentu bahwa kesaksian saksi kunci palsu tidak memiliki dasar pijak yang jelas. Penilaian semacam itu bersumber dari rasa marah mereka terhadap saksi kunci yang ternyata berani berbicara di luar skenario yang sudah mereka persiapkan.

Perlu anda ketahui bahwa sebelum hari Kamis, 17 April 2008, Mikhael Torangama Kelen mengadakan rapat di rumahnya. Rapat itu dihadiri oleh mereka (termasuk orang yang kemudian menjadi saksi kunci)yang dipanggil ke Polres Flores Timur untuk dimintai keterangan. Dia menyuruh mereka untuk mengatakan "tidak tahu" jika polisi menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan kematian Akim Maran. Jurus dusta memang sudah mereka rancang sejak awal. Maka tuduhan bahwa saksi kunci memberikan keterangan palsu pun langsung mereka lontarkan, setelah mereka mengetahui bahwa dia ternyata tidak mengikuti skenario rancangan mereka. Selain dari Mikhael Torangama Kelen, tekanan terhadap saksi kunci pun datang dari Andreas Boli Kelen. Kemudian saksi kunci itu ditekan-tekan pula oleh seseorang yang menginginkan agar keterangannya yang sudah dituangkan dalam BAP-nya itu dicabut.

Bersama rekan-rekannya yang kian lama kian terkenal sebagai peracik jurus tipu muslihat untuk menghindari diri dari tanggung jawab hukum, orang yang menghasut saksi kunci untuk mencabut keterangannya dalam BAP-nya itu belakangan ini asyik bermimpi tentang pembebasan Mikhael Torangama Kelen dkk dari tahanan Polres Flores Timur. Biarlah mereka itu terus bermimpi. Cepat atau lambat, ada di antara mereka itu yang akan bermimpi tentang pembebasan dirinya sendiri. Waktu itu dia dan mereka yang lainnya akan bermimpi dari balik terali besi.

Itu adalah konsekuensi logis dari segala macam kasak-kusuk mereka untuk menutup-nutupi kejahatan Senin malam, 30 Juli 2007 itu.***

Senin, 02 Juni 2008

Otak-otak kejahatan Senin malam, 30 Juli 2007 dan rasa takut yang menghantui mereka

Sinar matahari pagi muncul dari arah timur. Tetapi tidak setiap orang yang tinggal di blok timur kampung Eputobi, desa Lewoingu di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur mengalami terang. Di antara mereka, ada yang sejak lama berjalan dari gelap ke gelap. Sejak beberapa tahun lalu, makin banyak orang yang tinggal di blok itu yang terjebak dalam gelap malam. Mereka lantas lebih suka bermain dalam gelap ketimbang dalam terang-benderang. Bagi mereka, malam kelam pekat itu lebih baik ketimbang siang hari yang bermandikan cahaya matahari.

Dalam kelam pekat, tumbuh dan berkembang kuasa-kuasa gelap. Ketika kuasa-kuasa gelap berpadu dengan kuasa politik dan uang, maka dengan mudah terbentang jalan-jalan kelam dan sungai-sungai hitam legam. Dalam hati mereka yang berjalan dalam gelap tumbuh subur rasa iri dan benci terhadap siapa saja yang dianggap musuh. Dan tak ada lagi hari mereka, yang berlalu tanpa rancangan maut untuk orang-orang yang, menurut mereka, pantas untuk dilenyapkan. Dalam gelap, mereka tumbuh dan berkembang menjadi makhluk-makhluk haus darah, darah demi kekuasaan politik. Dalam gelap malam di daerah Tobi Bele'eng dan Blou, yang terletak di antara Wairunu dan Lewolaga, di Flores Timur, pada Senin malam, 30 Juli 2007, mereka berhasil membuktikan diri sebagai penumpah darah yang amat buas.

Yang mereka tumpahkan di sana adalah darah Yoakim Gresituli Ata Maran, orang yang tidak bersalah. Dia hanyalah korban dari mereka yang kebelet nafsu untuk memiliki kekuasaan dan harta duniawi. Kematiannya dirancang sebagai suatu proyek. Maka tak heran, bahwa dalam komplotan penjahat itu pun terdapat otak, penyandang dana, pelaksana, para pendukung, dan para pelindung.

Otak kejahatan Senin malam, 30 Juli 2007 itu terdiri dari tiga orang. Dua orang sudah jelas sosoknya. Satu lagi masih tersamar. Sosoknya bakal menjadi lebih jelas, cepat atau lambat. Satu dari dua otak yang sudah jelas sosoknya itu, selama ini, terkenal sibuk ke utara ke selatan, ke timur ke barat untuk menggarap lahan-lahan tertentu. Kesibukan semacam itu mulai nampak pada pertengahan Agustus 2007. Otak yang satu lagi, sibuk beroperasi di belakang layar, juga untuk menggarap lahan-lahan tertentu. Dari belakang layar, si otak yang satu ini sempat mengeluarkan ancaman terhadap seseorang, yang dianggap mendatangkan rugi bagi komplotannya. Mereka yang tidak kuat mental mau tunduk pada tekanan semacam itu. Mereka yang serakah akhirnya mau menjual martabat diri mereka.

Selama ini, dua otak ini tampil penuh percaya diri, bahkan sempat amat perkasa. Baru belakangan ini tampilan mereka mulai berubah. Setelah sadar bahwa hukum tak bisa lagi dipermainkan dan tak ada lagi lahan yang bisa digarap, dua otak ini mulai kelihatan cemberut. Kebiasaan jalan-jalan berubah menjadi kebiasaan "diam di rumah." Mulut yang biasa banyak bercuap berubah menjadi mulut orang sakit gigi. Tapi di belakang layar, ada yang tetap berjalan, yaitu kasak-kusuk mengubah pendirian saksi kunci. Tak lupa, jurus perdukunan pun terus mereka mainkan. Tapi siapa yang takut dengan permainan primitif itu?

Lantas ada satu aktivitas baru di kalangan mereka, yaitu mencari kebenaran dan keadilan. Ini merupakan reaksi mereka atas ditahannya empat tersangka pelaku pembunuhan Yoakim Gresituli Ata Maran. Setelah berkomplot untuk melakukan perbuatan yang tidak benar dan tidak adil, kini mereka berdoa memohon kebenaran dan keadilan dari Tuhan. Doa itu dipanjatkan tanpa rasa sungkan. Meskipun rasa malu sempat timbul dalam diri orang yang kini terbelenggu, mereka merasa diri berada pada posisi yang benar dalam perkara kejahatan Senin malam, 30 Juli 2007.

Bagi mereka, yang salah adalah pihak keluarga korban yang berusaha sekuat tenaga membongkar kasus kejahatan tersebut. Selain itu saksi kunci pun mereka pandang bersalah, hanya karena dia mau mengungkapkan apa yang dilihat dengan matanya sendiri. Melalui SMS, mereka menyebarkan informasi bahwa saksi kunci akan jadi tersangka karena memberikan kesaksian palsu. Mungkin karena sering dicekoki dengan informasi-informasi yang salah, maka ada saja orang dari kalangan mereka yang terus terbuai oleh mimpi tentang pembebasan empat tersangka itu dalam waktu dekat. Mimpi indah mereka sekarang ini ialah bahwa sangkaan yang dikenakan pada empat orang tersangka itu tidak terbukti. Padahal proses penyidikan dari waktu ke waktu semakin memperjelas posisi mereka sebagai tersangka sekaligus semakin membuka ruang bagi terungkapnya tersangka-tersangka baru.

Kini otak-otaknya itu semakin dihantui rasa takut. Mereka takut akan dijadikan tersangka. Mereka takut dihukum. Mereka takut harga diri mereka akan ambruk begitu saja. Maka mereka dan bagian dari jaringan mereka pun sibuk mengiklankan diri sebagai orang-orang saleh yang benar melalui internet dan melalui SMS. Bahkan tanpa sungkan-sungkan mereka pun merasa diri sebagai korban kesaksian palsu dan penyebaran kebencian. Padahal mereka itu yang telah menjadikan orang yang tidak bersalah itu korban. Dan mereka itu pula yang dengan gagah berani menyebarluaskan kebencian baik secara lisan maupun secara tertulis terhadap pihak keluarga korban yang dengan sekuat tenaga berjuang untuk mengungkap sebab sesungguhnya kematian anggota keluarganya itu.

Makin lama makin jelas, bahwa mereka ingin tetap berjalan dari gelap ke gelap, dari dusta ke dusta. Kalau begitu, masyarakat beradab di seluruh pelosok Lewoingu dan sekitarnya pun perlu waspada akan kemungkinan mereka berjalan dari kejahatan ke kajahatan. Kewaspadaan perlu dimantapkan, karena yang kita hadapi adalah suatu komplotan orang-orang yang sungguh-sungguh jahat. Perjuangan memberantas kejahatan itu belum usai. Masih ada tantangan dan halangan yang harus kita hadapi. Kehidupan memanggil kita untuk berani memikul tugas berat penuh risiko itu di pundak kita.

Andai saja aparat kepolisian setempat bekerja lebih gesit, sesuai dengan standar profesionalisme yang seharusnya mereka miliki, siapa pun yang terlibat dalam peristiwa kejahatan yang sangat mengerikan itu, termasuk otak-otaknya, sudah dibekuk satu per satu.

Lebih cepat memang lebih baik. Tetapi cara pelan-pelan pun terkadang lebih mantap hasilnya. Ada suara yang makin lama makin jelas mengatakan, "Satu per satu mereka yang terlibat dalam peristiwa kejahatan Senin malam, 30 Juli 2007 itu, termasuk otak-otaknya, akan ditangkap, diadili, dan dijatuhi hukuman sesuai dengan bobot kejahatan mereka masing-masing."

Segera setelah berhasil berkomplot melakukan kejahatan, mereka dihantui oleh rasa takut yang sangat mengerikan. Itulah sebabnya ulah tingkah mereka selama ini pun tampak beringas dan seperti cacing kepanasan. Tetapi satu per satu mereka dari komplotan penjahat itu akan punah terpanggang bara matahari kehidupan ini.

Itulah risiko kalau mereka memilih berjalan dari gelap ke gelap. Itulah risiko dari pilihan mereka untuk meminum air dari sungai yang hitam legam, selama ini. Itulah risiko dari kenekadan mereka untuk menerima piala darah orang yang tak bersalah itu. ***